Rabu, 26 Agustus 2009

Terima Kasih atas Doa dan Support untuk Yulia


"Teman-temanmu baik banget San, padahal mereka belum kenal aku. Tolong sampaikan makasih ke mereka ya," demikian bunyi pesan pendek Yulia diHPku, begitu kukasih tahu banyak teman-teman FB yang mendoakan kesembuhannya setelah kisahnya ku-share di Facebook.
Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman budiman yang telah memberikan doa kesembuhan dan sudi membaca kisah teman kuliahku yang sedang terbaring lemah tak berdaya, Yulia. Perempuan yang tengah berjuang melawan penyakitnya itu sangat terharu atas kepedulian teman-teman semua. Untaian doa dan perhatian teman-teman menjadi penyejuk hati dan support untuknya.
Yulia pun kian terharu, kala kukasih tahu ada teman FB yang membantunya."Subhanallah, temanmu baik banget mau peduli aku. Padahal belum kenal aku. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepada temanmu itu ya San. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian dunia dan akhirat," ujarnya.
Teman-teman, sebuah perhatian untuk saudara kita, betapapun sangat kecil bentuknya, sangat bermakna. Doa teman-teman semua sangat dinantikan oleh teman saya Yulia yang saat ini lumpuh tak berdaya melawan ganasnya kanker yang dideritanya. Sekali lagi terima kasih atas perhatian teman-teman semua.

Support Untuk Yulia



Tubuh yang tergolek lemah di kasur kapuk lusuh dan usang itu nyaris tinggal kulit dan tulang. Kakinya yang mengecil, berminyak dan kehitaman. ”Itu minyak, obat dari Pak Ustadz San,” ujarnya tersenyum. ”Rabbi....,” sebutku dalam hati, aku shock, kala melihat batok kepalanya mengecil, matanya cekung dan bentuk mukanya sangat menyedihkan. Bahkan, aku tidak mengenalinya lagi. Tuhan, sedemikian parahnya kondisi temanku ini.
Gadis malang yang kini tengah lumpuh tak berdaya itu bernama Yulia, teman kuliahku di Sastra UI. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Karena, sebelum aku menjenguknya, aku sering ngobrol dengannya by phone. Ia selalu ceria. Bahkan, ia tak pernah menyinggung soal penyakitnya jika tidak aku minta. Yulia lebih banyak cerita soal hal yang menyenangkan sebelum ia jatuh sakit. Aku pun mengira kondisinya tidak menyedihkan seperti ini. Hatiku teriris.
Aku kemudian keluar kamar sederhana itu untuk bersalaman dengan ibunya Yulia. ”Rabbi...,” hatiku kembali trenyuh. Ibunya Yulia ternyata tidak bisa melihat. Sebelum bertandang ke rumahnya, Yulia pernah cerita jika ibunya buta. Ibunya tidak bisa melihat lagi ketika Yulia masih kuliah. Sementara bapaknya sudah sepuh dan tidak bekerja lagi. ”Dulu Bapak sopir San,” ceritanya. Saat ini, untuk membiayai kebutuhan sehar-hari, keluarganya dibantu salah satu kakaknya. ”Alhamdulillah, ada satu kakakku yang bisa membantu,” ujarnya kepadaku suatu ketika.
Rasa iba dan sedih, sekejap berganti dengan salut setelah melihat keikhlasan hati perempuan sepuh berjilbab hitam itu. Bu Sairah, namanya. ”Beginilah kondisi kami nak Susan. Alhamdulillah. Ayo duduk, duduk. Terima kasih sudah datang menjenguk Yulia. Mau minum apa,” ujarnya hangat ke aku dan Epi, temanku. ”Ibu, tidak usah repot ya,” ujarku hampir berbarengan dengan Epi.
Kami pun kembali ke kamar Yulia. ”Gimana kondisimu Yul,” tanyaku. ”Alhamdulillah...baikan. Untung kalian datang ke sini tubuhku dah bersihan,” ujarnya tersenyum. ”Loh memangnya kenapa?” tanyaku. ”Nih habis ambrol,” jelasnya. ”Maksudnya?” tanyaku lagi. ”Ya, tiap berapa hari, keluar nanah dan darah dari pori-pori kulitku. Kalau melihatnya pasti jijik. Alhamdulillah, kalian datang pas aku bersihan,” jelasnya.
Sesaat kemudian, ayahnya Yulia masuk kamar mengantarkan minuman dan kacang goreng. ”Ayo diminum dan makan kacangnya mbak,” ujarnya. ”Makasih Pak,” jawab kami serentak kayak pasukan militer....:p ”Subhanallah, kala dalam kesempitan dan kesusahan, mereka masih mau berbagi dan menjamu tamu,” kataku dalam hati. Tak berapa lama, gantian ibunya Yulia, minta kipas angin dinyalakan saja. ”Kayaknya panas, kipasnya tolong dinyalakan saja dik,” pintanya sambil menggendong keponakan Yulia. ”Ga kok bu, makasih,” balasku dan Epi.
Kami pun kembali ngobrol. Yulia tetap semangat. Tidak tersirat kekesalan dan keputusasaan di wajah Yulia atas ujian berat yang menderanya. Karena tak ingin membuatnya sedih, aku pun tak banyak nanya soal penyakitnya. Justru ia mengajak kami bercanda dan ngobrol soal teman-teman kuliah dulu. Acapkali tawa Yulia lepas. Sesekali ia juga melucu. ”San, kalau kisahku dibikin buku, bisa-bisa terus bersambung deh, ga ada habisnya. Kalau difilmkan, juga akan berseri-seri,” ujarnya tertawa. Kami pun tertawa mendengarnya.
Suatu siang di tahun 2004, saat Yulia baru enam bulan bekerja di perusahaan swasta, badannya panas dan menggigil gemetaran. ”Aku kira cuma ga enak badan San,” ujarnya. Namun, saat berada di angkot dalam perjalanan pulang kantor, ia mendapati ada yang aneh dengan jari kakinya. ”Ki, kenapa jari-jari kakiku membengkak?” katanya kepada Kiki, teman kuliah yang kebetulan sekantor dengannya. Mereka pun bingung dan khawatir. Sesampai di rumah, Yulia mengobati jari kakinya seadanya.
”Besoknya San, tiap kena sinar matahari, jari kaki dan tanganku membengkak dan merah,” ujar Yulia. Sejak itu, kondisi Yulia kian memburuk. Hingga suatu siang, dari jari kakinya keluar nanah. ”Jari kakiku yang bengkak-bengkak pada pecah mengeluarkan nanah,” ceritanya.
Keluarga memutuskan Yulia dirawat di sebuah RS pemerintah di Jakarta Selatan. Namun, bukan membaik, tapi penyakitnya tambah parah. “Kakiku dioperasi San. Tapi, bukan tambah baik, malah semakin parah. Bengkaknya semakin besar,” ujar Yulia. Oleh dokter RS tersebut, Yulia divonis menderita penyakit lupus. “Memangnya ada tanda kayak kupu-kupu di wajahmu Yul?” tanyaku. “Ga, tapi kalau kena sinar matahari kulitku langsung merah, membengkak,” jelasnya.
Melihat kondisi Yulia yang makin parah, pihak RS itu angkat tangan. Mereka merekomendasikan Yulia dirawat di salah satu RS swasta yang terbilang bagus. Yulia kemudian diboyong di RS yang sering merawat para pejabat itu. ”Gimana Yul, setelah di rawat di sana?” tanyaku. ”Tidak ada perubahan San,” katanya. Anehnya, menurut diagnosa dokter di RS ini, Yulia mengidap kanker kulit. Entahlah yang benar yang mana. Yang jelas, Yulia lumpuh, tidak bisa berjalan. ”Aku tidak bisa jalan sejak tahun 2005 San,” ujarnya.
Keluarga sudah habis-habisan membiayai pengobatan Yulia. Terlebih, bapaknya sebagai tulang punggung keluarga sudah tidak bekerja lagi. Karena kondisi keuangan yang semakin sulit, akhirnya Yulia pasrah. “Kakakku membawaku ke pengobatan alternatif. Mulai herbal, ruqyah, hingga metode lain,” ujarnya.
Belakangan, Yulia dibawa ke seorang ustadz di daerah Petukangan Jakarta Selatan. ”Alhamdulillah mendingan San. Tapi, karena mau bulan puasa, ga praktek, libur,” ujarnya. Saat ini, Yulia juga menjalani pengobatan transfer energi. ”Pokoknya ikhtiar, Allah pasti memberi kesembuhan,” ujarnya tersenyum. Padahal, saat ia ngomong hal itu, aku nyaris menangis.
Melihat ketabahan, keikhlasan, keteguhan hati dan kesabarannya, aku pun malu. Bahkan kala aku ingin membesarkan hatinya, aku juga tak sanggup. Sungguh, aku malu dengan kesabaran hatinya. ”Yul, aku ga bisa ngomong banyak. Karena aku yakin, kamu lebih paham atas semua cobaan ini,” ujarku. ”Ngomong saja San. Alhamdulillah, banyak sekali hikmahnya. Aku bersyukur, Allah memberi sakit ini setelah aku lulus kuliah. Aku sangat bersyukur,” ujarnya. Rabb...dalam kondisi seperti ini, syukurnya masih menggema. Akupun lantas melihat diriku yang sering mengeluh dan kerap lupa atas nikmat-Nya. ”Ampuni aku Tuhan....,” batinku.
Dalam perjalanan pulang dari rumahnya yang berada di gang sempit di kawasan padat penduduk belakang Kostrad, Gandaria Jakarta Selatan, aku masih terngiang ucapan Yulia. Namun, tangisku langsung pecah kala aku berada di dalam mobil. ”Tuhan, dibalik tubuhnya yang kian menyusut dan lumpuh, ia punya jiwa besar dan tegar. Lindungi Yulia, berikan kesembuhan untuknya,” ujarku di sela tangisku.
Pagi ini, aku menerima sms dari Yulia. Sungguh, tergambar sebuah kesabaran dan keihlasan hati anak manusia dalam menghadapi cobaan dari Sang Pemilik Kehidupan. ”Sungguh San, ada banyak hikmah di balik semua ini. Aku jadi tahu, manusia itu benar-benar makhluk lemah. Kekuasaan, kehidupan, dan kesembuhan hanya milikNya, Allah azza wa jalla.”
Yulia temanku yang manis, yang lincah, ceria, saat ini hanya bisa terbaring. Bahkan, untuk duduk pun ia tak sanggup. Nyaris sepanjang hari ia hanya bisa mendengarkan ceramah keagamaan dari radio mungilnya yang ia letakkan di dekat kupingnya. Cita-citanya untuk membahagiakan orang tuanya dan memperbaiki ekonomi keluarga, direnggut penyakitnya. Hanya enam bulan ia bekerja. Setelah itu, ia menjalani hari-harinya dengan pengobatan dari dokter satu ke dokter lain, dari herbalis satu ke tenaga alternatif lain. ”Jika berobat, aku dibopong San,” tuturnya. Padahal, ia sama seperti aku dan lainnya. Punya hak untuk hidup lebih baik. Tapi, semua itu, saat ini seakan sirna dari hidupnya.
”Rabbi, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berilah kesembuhan dan yang terbaik untuk Yulia,” doaku dalam sujudku. Teman-teman, mohon keikhlasan doa untuk kesembuhan Yulia. Terima kasih atas support-nya.

Kamis, 13 Agustus 2009

Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Tong Bolong Melompong Isinya



Sekilas, tong warna hijau toska yang berada di peron salah satu statsiun itu baik-baik saja, ya seperti lazimnya tong sampah. "Aku baik-baik saja....," mungkin kira-kira begitu jika ia bisa bicara, seperti lagunya Ratu lah.Bahkan, boleh dibilang jika dilihat sekilas, kondisinya masih oke. Tanpa ragu, aku pun mendekatinya. Untuk apa? Ya untuk buang sampah lah masak buang muka....:p
Namun, kala bungkus penganan nyaris lepas dari jemari tanganku yang sangat kasar kayak amplas (maklum kuli bangunan nek...)tiba-tiba aku mengurungkannya. Ow ow....tong sampah itu separo dasarnya bolong! "Hhhhh...ini jelas-jelas jebakan!" kataku kesal dalam hati. Finally, kukantongi aja tuch bungkus makanan kecil.
Ternyata, tong sampah itu seperguruan dengan miss kunti, sama-sama bolong. Dah gitu, dia sudah tidak layak lagi menyandang nama besar tong sampah, tapi harus diganti menjadi tong bolong. Kalo dia ngotot tetap ingin dipanggil tong sampah, sudah tidak pantes lagi. Pasalnya, ga bisa nampung sampah. Masih mendingan tong kosong meski nyaring bunyinya masih bisa diisi macem-macem mulai dari tanaman hingga sisa-sisa bangunan. Tong kosong pun bisa menjadi tong sampah. Kalo tong bolong? Ya mlompong isinya. Alias ga ada apa-apanya.
Hal-hal kecil kayak begini membuktikan betapa besar 'perhatian'pemerintah, instansi terkait dan masyarakat Indonesia akan kebersihan lingkungan. Sehingga, tong sampah pun dibiarkan bertengger anggun meski sudah bolong. Yang penting kan kelihatan care pada lingkungan. Padahal.....

Rabu, 29 Juli 2009

"Dari Bemo Menyekolahkan dan Mengawinkan Anak"


Wajah laki-laki tua itu tampak kecewa, tiap menerima pembayaran ongkos penumpang. Di bemo tuanya jelas terpampang tulisan besar Rp 2500. Bisa jadi, karena penumpang membayar di bawah harga. Ketika penumpang satu per satu turun, dan tinggallah aku dan bapak tua, penumpang di samping sopir, aku mencoba mencairkan suasana. "Gimana Pak, ramai pagi ini?" tanyaku tersenyum.
Bapak tua itupun menoleh ke arahku yang berada di jok belakang. "Ya...seperti biasanya neng, sepi." Ia menambahkan, "Sejak kredit sepeda motor mudah, orang memilih beli motor daipada naik bemo." Menurutnya, penghasilannya turun drastis, sejak masyarakat lebih memilih nyicil motor. "Pemasukan turun banyak pokoknya. Nyari duit susah," keluhnya.
Tapi, Pak Asep Suryantana, demikian nama panjangnya, tetap bersyukur. "Alhamdulillah, anak-anak sudah lulus sekolah aliyah semua (MAN, setingkat SMU," syukurnya. "Tidak kebayang kalau anak Bapak masih sekolah. Sepertinya Bapak tidak bisa menyekolahkan mereka dengan penghasilan sekarang," imbuhnya.
Pak Asep, lelaki tua berusia 60 tahun itu telah 'mengabdi' menjadi sopir bemo sejak 25 tahun silam. "Dulu Bapak bisa dapat uang Rp 300 ribu. Sekarang boro-boro. Kadang Bapak tidak bisa mengejar jumlah setoran sehari Rp 40 ribu ke pemilik bemo ini," ujarnya. "Kalau tidak dapat Rp 40 ribu gimana Pak," tanyaku prihatin. "Ya ngutang neng," jawabnya.
Akibat sepinya penumpang, kakek tujuh cucu ini jarang pulang menemui istri dan anak cucunya yang berada di Bandung. "Kalau pulang ke rumah, harus bawa uang paling sedikit Rp 300 ribu. Itupun habis buat ongkos," tutur ayah dari empat orang anak itu.
Ketika ditanya tentang rencana penghapusan armada demo di Jakarta, Pak Asep berujar lirih," Kalau mau dihapus pemerintah, rakyat kecil bisa apa, ya ngikut aja neng. Bapak mau dagang di kampung, kalau tidak bisa narik bemo lagi. Bapak bersyukur, dari bemo ini Bapak bisa menyekolahkan anak dan mengawinkan mereka," pungkasnya. Tak terasa, perbincangan kami pun harus berakhir. Karena aku sudah sampai lokasi yang kutuju. Kuselipkan uang sepuluh ribuan ke pahlawan keluarga itu yang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. "Terima kasih banyak neng," ujar Pak Asep di tengah raungan mesin bemonya....

Sabtu, 25 Juli 2009

Mengasong Hidup di Sudirman


Mataku nanar menyapu trotoar Jalan Sudirman. "Nenek kok tidak ada ya," ujarku cemas. Kekhawatiran sempat memenuhi pikiranku. "Jangan-jangan......." Tiba-tiba ada suara seperti memanggilku. "Nak Susan, lama ga kelihatan," ujar mbah Sulami, nenek pedagang asongan, sambil memarkan deretan giginya yang tinggal satu dua. "Alhamdulillah," kata batinku lega. Oalah...ternyata lokasi jualan mbah agak jauhan dari biasanya. "Mbah kira sudah pindah kantor Nak," imbuhnya kala aku menyalaminya.
Jumat pagi itu, seperti biasa mbah Sulami ngasong di trotoar Sudirman dekat Pasar Bendungan Hilir. Sebuah payung usang melindunginya dari sengatan matahari yang mulai terik. Dagangannya berupa tissue, air mineral, minuman ringan, dan rokok ditaruh dalam dua kardus. Kala sedang ngobrol denganku, ada seorang wanita kantoran membeli tissue.
"Mbah, gimana kabarnya," ujarku. "Alhamdulillah baik Nak," kata Mbah Sulami yang hidup sebatang kara di ibukota. Ia pun bercerita tentang dagangannya yang dicuri orang. "Kemarin ada yang ngambil sebungkus rokok Nak." "Mbah memang ke mana?" "Mbah lagi ke pasar sebentar,eh sebungkus rokok langsung hilang." "Sabar ya mbah," ujarku sok bijak dan menasehati...:p
Beberapa minggu ini, Mbah Sulami harus 'maen petak umpet' sama petugas Satpol PP. "Minggu kemarin Mbah sudah mau ditangkap Nak," ujarnya. "Terus, mbah gimana waktu mau ditangkap?" tanyaku. "Mbah nangis dan bilang ma petugas, kalau mau diangkut, angkut saja. Mbah ga selamanya di sini. Mbah bukan pengangguran. Mbah di sini nyari makan, Mbah ga mau nyusahin orang lain dan pemerintah." "Akhirnya mbah?" "Ya ga jadi Nak," ujarnya. Seminggu sebelumnya, kata Mbah Sulami, juga ada operasi. "Mbah sembunyiin dagangan mbah," tuturnya.
Aku ga bisa mbayangin, Mbah Sulami, nenek renta berusia 95 tahun harus bolak balik mindahin barang-barang dagangannya saat digelar operasi. Hatiku pun trenyuh. Tapi, aku mendapat pelajaran sangat berharga, sebuah perjuangan hidup. Di usianya yang hampir seabad, Mbah Sulami tetap tegar mengasong di jalanan untuk melanjutkan kehidupan. Tidak ada keluhan, mengapa ia harus menjalani hidup seperti sekarang. Pagi sampai sore berdagang asongan, malam tidur sendirian di los pasar Benhil Sudirman.
"Mbah, mbah ga mau pulang kampung, di sana lebih tenang dan aman buat mbah" ujarku lembut. "Mbah tidak punya siapa-siapa di kampung Nak," ujarnya tersenyum. Suami mbahsudah berpulang ke Sang Khalik, imbuhnya. Ia juga tidak punya anak. "Ada saudara. Tapi mbah ga enak kalo numpang, ga mau ngerepotin saudara," terangnya. Percakapan kami berlangsung sekitar 15 menit, karena aku harus kembali melanjutkan perjalananku. "Mbah, saya pamit dulu ya. Mbah baik-baik ya. Jangan lupa berdzikir dan sholat ya Mbah," ujarku sambil menyalaminya dan memberikan selembar daun.....eh uang. "Makasih banyak Nak Susan. Hati-hati di jalan ya," ujarnya tulus. Kembali Mbah seorang diri di antara hingar bingar kehidupan Metropolitan dan asap knalpot kendaraan. Mudah-mudahan Sang Pemilik Kehidupan selalu melindunginya dan memudahkannya dalam kesulitan hidup yang menderanya. Semoga.

Minggu, 21 Juni 2009

Ikhlaskan, Sekalipun Cuma Ucapan Thank You


Dadaku mendadak sesak, penuh, dan bergemuruh. Sesaat setelah Vera (bukan nama sebenarnya) keluar dari pintu pagar rumahku. "Koq dia ga tahu diri banget ya....makasih aja ngga," batinku berkata. Tiba-tiba Vera menoleh ke arahku. "Ah mungkin dia mau ngucapin makasih kali," harapku. "Duluan ya mba, Assalamu'alaikum..." "Waalaikumsalam," balasku.Aku pun masuk rumah dengan nada kecewa.
"Kenapa nduk," tanya ibuku. "Kecewa Bu, masak dikasih duit Rp 800 ribu, ngucapin makasih aja nggak," ujarku lirih. "Sudah ikhlaskan saja nduk," nasehat ibuku. Akupun berusaha mengikhlaskan bantuanku. Cuma, sudut hatiku tetap tidak terima. "Untuk mendapatkan uang Rp 800 ribu kan ga gampang," protes batinku.
Aku berusaha melupakan kejadian itu.
Beberapa bulan kemudian, saat aku berada di angkutan umum. "Mba, Intan lagi sakit, anak-anak lagi kurang enak badan," demikian bunyi sms dari Ratih (bukan nama sebenarnya). Membaca sms itu, aku baru tersadar kalo saat itu aku belum ngirim uang ke dia. Ratih, ibu dua orang anak balita di Surabaya. Perempuan berusia 27 tahun itu kumpul bareng orang tuanya di sebuah rumah sempit di gang kecil di Kota Buaya, bareng dengan saudaranya yang lain yang telah menikah juga. Jadilah rumah mungil itu dihuni oleh beberapa keluarga.
Ratih menikah dengan tetanggaku. Malangnya, kala ia hamil 3 bulan, dan anak pertamanya berusia setahun, suaminya yang menjadi buruh pabrik itu meninggal dunia. Sejak suaminya meninggal, aku berusaha membantunya tiap bulan. Tiap menerima bantuan, tak lupa Ratih menelponku mengucapkan terima kasih dan mengabarkan perkembangan buah hatinya, Indy dan adiknya yang kini telah lahir, Intan namanya.
Karena kesibukanku, aku lupa lagi mengirim uang. Baru empat hari setelahnya, aku ingat dan berniat mentransfer uang. Ternyata, aku ga nyimpan no rek-Ratih di Hpku. Akhirnya, aku nge-sms menanyakan norek-nya. Ratih pun membalas smsku tanpa ada kata terima kasih di situ. Aku pun maklum. Dan beberapa hari setelahnya juga tidak ada sms ataupun telepon ucapan terima kasih.
Demikian juga kala aku membantu kaum dhuafa lain. Harapan balasan itu kubuang jauh-jauh. Karena itu, aku sangat surprise, kala memberikan sedekah ke Mbah Sulami, nenek sebatang kara yang jualan minuman di trotoar Sudirman dekat Pasar Benhil. Uang yang kuberikan tak seberapa. Tapi, subhanallah…ucapan terima kasihnya sangat tulus. Ia pun dengan senang hati meminta aku mengambil minuman dagangannya. Kadang aku mau, kadang juga ga. Karena memang ga haus…..:)
Setelah berusaha ikhlas, alhamdulillah, hatiku kian lapang dan tidak berharap ucapan terima kasih. Lambat laun, ucapan thank you itu kulupakan. “Allah Maha Tahu,” demikian bisik hatiku. Bahkan, aku berusaha untuk tidak bertemu langsung dengan penerima bantuan. Hatiku terasa lapang setelahnya....
Dari rentetan kejadian itu, aku belajar untuk menghargai pemberian orang. Sekecil apapun pemberian itu. Aku terbiasa mengucapkan terima kasih saat menerima langung dan setelahnya berusaha mengirimkan sms berisi ucapan terima kasih. Aku berusaha menghargai niat baik orang lain yang telah memberiku. Pemberian adalah sebuah bentuk perhatian mereka akan keberadaanku.
“Dua kata paling penting di dunia: TERIMA KASIH dan MAAF. Satu kata yang paling tidak penting: SEANDAINYA…..

Sabtu, 20 Juni 2009

Semangat Seorang Penjaja Roti


"Mbak,kok ga keliling," tanyaku pada pedagang roti keliling yang biasa ngider di stasiun Tebet. "Tuch... di seberang ada tramtib," ujarnya melihat tramtib yang berada di peron jurusan Bogor. Alhasil, Rabu pagi ini (22/4), perempuan penjaja roti bernama Tutik itu hanya duduk manis di bangku penumpang KA sambil sesekali menawarkan roti ke penumpang yang melintas di depannya.
"Sekarang jam berapa sih mbak?" tanya perempuan asal Purwodadi dengan logat Jawa yang masih kental. "Jam 08.00 WIB mbak, kenapa?" "Biasanya mereka (tramtib) ke sini jam 9 pagi," jelas Tutik. "Kalau mereka ada di sini, saya ya hanya diam gini. Nurut saja lah, ntar kalau keliling malah ditangkap," keluh Tutik. "Pernah ditangkap?" "Ga pernah. Saya selalu mematuhi perintah mereka. Kalau disuruh keluar stasiun ya keluar. Kadang saya juga menawarkan roti ke para petugas itu. Lagian saya ini niatnya nyari rezeki halal. Mereka menjalankan tugasnya, saya juga kerja," jelasnya kalem.
"Dari dulu jualan roti?" "Nggak mbak, tadinya saya babby sitter. Setelah nikah milih dagang roti. Biar ga tergantung pada orang, waktunya bebas, sekalian bisa ngawasin anak," ujarnya. Tiap hari, Tutik berkeliling dengan sepedanya menawarkan roti. "Saya jualan di sekitar rumah saya,tuch di sebelah situ," Tutik menunjuk lokasi rumahnya yang berada di sebelah selatan stasiun Tebet.
Jam 07.00 pagi Tutik mulai ngasong di stasiun Tebet. "Sepeda saya titipin dekat stasiun," ujarnya. Biasanya, jam operasi jualan roti di stasiun berlangsung hingga pukul 09.00 WIB. "Kadang juga cuma sampai jam 08.00 WIB seperti sekarang karena sudah ada tramtib," jelasnya.
"Jualannya hanya sampai jam 09.00?" "Ya nggak lah mbak, pagi sampai jam 11.00 WIB, tapi ga di stasiun lagi, keliling naik sepeda di pemukiman penduduk," ujarnya. "Terus?" "Nanti jam 17.00 WIB saya jualan lagi sampai jam 20.00 WIB kadang di stasiun kadang juga ngider," jelasnya.
Dalam sehari, Tutik mampu menjual 20-an bungkus roti tawar dan 30-an roti manis. "Tapi kadang bisa lebih dari itu,"ujarnya. Dengan tren penjualan seperti itu, sehari Tutik bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu untuk dibawa ke rumah. "Untuk mbantu suami dan membiayai sekolah anak," ujar Tutik tersenyum.
Nggak berselang lama, petugas tramtib di peron seberang memberi kode agar Tutik menyingkir dari stasiun. "Mbak, saya pergi dulu ya. Makasih," ujarnya buru-buru mengambil nampan rotinya sambil memberikan dua roti mamis yang aku beli. Melihat semangatnya, aku jadi teringat spirit ibuku, mbakku dan jutaan perempuan lain di negeri ini yang berjuang untuk keluarga dan anak-anaknya menjadi generasi masa depan.