Kesedihan, kehilangan, kekecewaan, dan trauma adalah kata-kata yang melekat ketika bencana melanda. Secercah cahaya sangat diperlukan agar korban sembuh dan bisa melanjutkan hidup kembali pasca bencana.
Tangis Ismail lirih menyayat di antara puing reruntuhan material. Kepedihan nyata mencuat di wajah lelaki paruh baya itu. Dua anaknya dan istrinya menjadi korban amuk tsunami di kampungnya, Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera Barat. Ia tak pernah menyangka, kebersamaan keluarganya akan berakhir di ganasnya air.
Duka juga dirasakan seorang ibu di Sumatera Barat. Acapkali air bening mengalir dari dua matanya. Bahkan, tangis keras terdengar kala nama anaknya, Angga, salah satu korban gempa di Padang, 30 September 2009 disebut salah satu presenter TV berita. Angga, anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar di Padang, menjadi salah satu korban meninggal saat gempa menggoyang bumi Minang. Meski setahun berlalu, duka ibu Angga masih terasa. “Saya masih sedih kalau masuk ke kamarnya,” ujar wanita berkulit bersih itu pilu.
Bencana alam tidak bisa diperkirakan kapan pastinya datang. Meskipun peradaban manusia telah menghasilkan teknologi yang bisa mendeteksi gejala alam penyebab malapetaka. Seperti diungkapkan Prof Hery Harjono Peneliti Bidang Kebumian LIPI kepada wartawan stasiun TV swasta beberapa waktu lalu. “Ilmuwan bisa menjelaskan fenomena alam setelah terjadi bencana, juga bisa membuat prediksi tetapi tidak bisa memastikan. Ada deviasi antara prediksi dengan kejadian,” ujarnya.
Dengan adanya ketidakpastian datangnya bencana, masyarakat harus memiliki kewaspadaan dan ilmu tentang bencana alam. Selain persiapan material, juga diperlukan kesiapan mental dan strategi yang harus dilakukan ketika musibah terjadi. Sosialisasi tentang penyelamatan diri kala gempa, banjir, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, dll harus dilakukan mulai dari bangku sekolah dasar. Juga penyuluhan kepada warga masyarakat dari rukun tetangga hingga kelurahan.
Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan bencana. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu lahan subur gempa, bencana gunung meletus, dan tsunami. Melihat kondisi geografis dan geologis Indonesia, sudah menjadi keharusan kita semua melek bencana.
Meski demikian, tetap diperlukan langkah-langkah progress dalam menangani bencana terkait traumatik korban, kelanjutan hidup korban dari sisi psikologis dan ekonomi, serta pemulihan daerah bencana.
Penyembuhan Trauma
Kehilangan harta benda atau menurunnya kondisi ekonomi menjadi salah satu kerugian yang diakibatkan bencana alam. Selain hilangnya orang terdekat dan keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan, dan cacat fisik. Sehingga wajar jika bencana alam menorehkan kenangan pahit dalam memori korban atau menimbulkan trauma dan pasca trauma. Dalam tinjauan psikologi kondisi pasca trauma disebut post traumatic stress disorder (PTSD) atau gejala stress pasca trauma.
Menurut para pakar psikolog, PTSD merupakan gangguan psikologis yang terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami suatu peristiwa tragis atau luar biasa. Orang ybs menjadi sangat terpukul, marah, kecewa, meratapi nasib, sangat sedih, cemas, gelisah, sulit tidur, takut berlebihan, waspada berlebihan, menarik diri, sulit konsentrasi, tidak percaya apa yang dialaminya, merasa tidak berdaya, bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, kehilangan jati diri dsb.
Gangguan psikologis ini menyebabkan kondisi kehidupan korban sangat kritis, tidak nyaman dan rentan terhadap berbagai bentuk gangguan kesehatan fisik dan kejiwaan. Sebagian orang yang tidak kuat mentalnya akan mengalami stress, depresi, bahkan sakit jiwa.
Malangnya, gangguan ini bisa menetap lama pada diri korban hingga 30 tahun bahkan sampai seumur hidup. Sehingga diperlukan penanganan secara tepat antara lain dengan psikoterapi. Masyarakat diajak menerima kondisi realita yang ada, membantu dirinya sendiri menyembuhkan traumanya, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Aspek religiusitas menurut sebagian kalangan dinilai efektif membantu penyembuhan trauma korban bencana alam. Pasalnya, ketika agama seseorang kuat, ia akan menerima musibah dan menganggap itu sebagai cobaan. Ia juga akan mencari hikmah atau pelajaran dari musibah yang menimpanya. Setelah itu, korban akan berusaha bangkit, mengumpulkan energinya untuk kembali menata hidupnya.
Penanganan Anak
Selain orang dewasa, anak-anak kerap menjadi korban bencana yang terabaikan. “Anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana alam harus disembuhkan dari traumanya secara permanen. Penyembuhan trauma pada anak-anak tidak boleh bersifat sementara atau hanya memberikan hiburan sesaat,” kata Ketua I Komisi Perlindungan Anak Indonesia Masnah Sari seperti dikutip di harian Kompas. Anak-anak pasti mengalami trauma melihat rumah dan tempat bermainnya hancur, imbuhnya.
Misran, Koordinator Unit Pusat Kajian Perlindungan Anak, seperti dikutip dari laman Starberita.com mengungkapkan trauma dan kesehatan anak kurang mendapat perhatian, dan sering tidak tepat dalam penanganannya. Dalam kondisi darurat, anak anak juga sering mengalami eksploitasi ekonomi, keterpisahan dan kehilangan tempat aman, imbuhnya.
Tingkat ketergantungan anak-anak yang tinggi terhadap orang dewasa membuat mereka berada di bawah ancaman dan sangat beresiko ketika orang tua dan keluarga menjadi korban meninggal. Sayangnya, kata Misran, Indonesia belum memiliki sistem penanganan bencana komprehensif dan kebijakan khusus menangani anak-anak dalam situasi tanggap darurat. “Institusi seperti sekolah, panti asuhan, organisasi keagamaan lembaga adat perlu diperkuat kapasitasnya untuk merespon cepat menangani anak-anak ketika bencana terjadi,” ujarnya.
Trauma anak, kata Masnah, bisa disembuhkan dengan menitipkan anak-anak ke sekolah yang tidak mengalami bencana. “Anak-anak itu dikumpulkan di satu tempat khusus dan diberi proses belajar mengajar yang khusus,” terangnya. Dosen psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Wiwik dalam seminar penanggulangan bencana yang juga menghadirkan Misran mengatakan perlunya deteksi dini sebelum memutuskan langkah terapi yang akan dimbil. "Kita harus mengetahui riwayat anak sebelum dan setelah bencana, tanda-tanda perubahan psikologi secara umum dapat dikenali sejak dini.”
Melanjutkan Hidup
Rachman, salah satu korban selamat gempa Padang, Sepetmber tahun lalu, kini harus hidup dengan satu kakinya. Padahal, kaki menjadi bagian vital yang mendukung aktivitas kerjanya sebagai tukang bangunan. Meski kakinya harus ia amputasi sendiri dengan gergaji, pemuda berdarah Sunda itu mengaku bersyukur bisa selamat dari amukan gempa. Ia kini mulai menata masa depannya. “Saya berharap ada dermawan yang mau menyumbang kaki palsu untuk saya,” harap Rachman.
Sarifah Cut, perempuan paruh baya yang tinggal di Aceh Barat juga menjadi saksi hidup atas kedahsyatan tsunami yang melanda serambi mekah pada Desember 2004. Bukan hanya harta benda yang hilang, salah satu jarinya putus terkena benda tajam saat ia berusaha menyelamatkan diri. Usai tsunami, perempuan yang aktif menggerakkan perempuan desa untuk berkoperasi ini mulai menata hidupnya. Termasuk menghidupkan kembali koperasi wanita yang dibentuknya. Meski, aset dan sebagian besar anggota koperasi hilang disapu tsunami. “Saya memulai semuanya dari nol lagi,” ujarnya saat ditemui dalam sebuah pameran KUKM di Gedung Smesco Promotion Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bangkit pasca mengalami kejadian pahit dalam hidup seperti musibah bencana alam tidaklah mudah. Dibutuhkan refleksi yang akan menjadi bahan evaluasi dan guidance seseorang maju ke depan. Sayangnya, tidak semua orang bisa melakukan refleksi yang sangat membantu dalam memetakan kekuatan dan kelemahan serta strategi bertahan hidup dan enjalaninya dengan lebih baik.
Diperlukan dua syarat seseorang bisa bangkit kembali menata masa depan, yakni kemauan berjuang untuk hidup dan kemauan bangkit mengatasi masalah dan membangun kembali hidup dan daerahnya yang porak poranda. Selain itu, dalam konteks masyarakat, diperlukan daya gotong royong untuk menata kembali keluarga dan wilayah.
Pemulihan hidup korban sangat tergantung pada kualitas yang bersangkutan. Sehingga, kualitas manusia menjadi aspek penting dalam menata kembali hidup masyarakat korban bencana alam. Peningkatan kualitas manusia, bukan berpusar pada kecerdasan pribadi. Tetapi juga adanya perlindungan, jaminan rasa aman, dan kesejahteraan dari pemerintah setempat.
Ya, peran pemerintah, lembaga sosial, dan empati masyarakat yang tidak menjadi korban sangat diperlukan. Pemerintah harus memiliki kebijakan, lembaga, dan aparat yang sigap mendukung pemulihan korban dan wilayah bencana. Juga fasilitator lembaga sosial yang diharapkan membantu memulihkan gangguan mental masyarakat. Para fasilitator sedianya memberikan perhatian dengan mendengar keluhan, mendampingi mereka mencari solusi atas permasalahan yang ada. Selain itu, fasilitator juga mengarahkan masyarakat dalam membangun kembali daerah dan lingkungan sosial. Mari bersama membantu saudara kita yang tengah ditimpa bencana. Duka mereka duka kita juga.
Senin, 06 Desember 2010
Kamis, 25 November 2010
Rezeki Allah itu Luas
Selasa siang (9 Nov) aku kedatangan tamu istimewa. Mantan cleaning service (CS) di kantor, sebut saja namanya Maman. Tubuhnya terlihat lebih kurus dalam balutan jaket hitam. Terakhir ketemu, Maman sedang menganggur. Ceritanya, ia keluar karena memperoleh pekerjaan baru di bidang ekspedisi. Sepintas, pekerjaan baru Maman lumayan menggiurkan.
“Gajinya lebih besar di sana mbak,” kata Maman sumringah saat pamitan.
Aku lega Maman memperoleh pekerjaan lebih baik. Terlebih istrinya kala itu baru saja melahirkan anak pertama dan keluar dari pekerjaan sebagai buruh pabrik.
Sekitar dua bulan kemudian, Maman datang lagi ke kantor.
“Kok main ke sini, memangnya nggak kerja,” tanyaku.
“Saya sudah tidak kerja lagi, Mbak,” balasnya.
“Memangnya kenapa Man?”
“Gajinya habis untuk membeli bahan bakar, Mbak. Masak untuk mengantarkan barang harus menggunakan sepeda motor dan bensin dari kantong sendiri,” keluhnya.
Sebenarnya Maman tahu, pilihan keluar bukan jalan terbaik. Karena, ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya.
Guna menambal kebutuhan keluarga, Maman menjadi guru ngaji di sebuah mesjid di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
“Alhamdulillah, masih mendapat rezeki dari orang tua murid,” ujarnya tersenyum.
Meski demikian, keuangan keluarga Maman kian limbung. Maklum, honor guru ngaji sangat tiris dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beruntungnya, dua bulan kemudian datang panggilan kerja sebagai security di rumah salah seorang istri pengusaha di Kemang. Namun, pergolakan batin ia alami ketika bekerja di sini.
“Saya sering bertanya, sumber uang ini haram atau halal,” terangnya menjelaskan asal muasal uang majikannya yang menurutnya menyalahi norma.
Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan keluar. Ia kemudian melamar di sebuah perusahaan yang menangani maintenance beberapa gedung di kawasan Jakarta Selatan.
“Alhamdulillah, diterima. Dari 200 pelamar, saya termasuk 12 orang yang diterima,” ujarnya. Meski, bidang pekerjaannya lumayan berbahaya, membersihkan kaca gedung dengan gondola.
“Ada saudaraku yang bilang, kerjaan kayak gitu kok diterima,” kata Maman menambahkan,” Kujawab aja Mbak, daripada anak istri gue nggak makan?”
Meski bertaruh nyawa, Maman sangat bersyukur dengan gawean anyarnya.
“Alhamdulillah kantor ngasih gaji lumayan mbak ,” kata Maman bungah.
Dalam sebulan ia mengantongi gaji hampir Rp 2 juta dipotong jamsostek dan asuransi kesehatan.
Jam kerjanya juga terbilang lengang.
“Sore jam 3 sudah bisa pulang,” kata Maman.
Yang paling membuat Maman senang, ia diangkat menjadi karyawan tetap. “Selama ini saya jadi CS selalu kontrak, Mbak. Di sini saya diangkat menjadi karyawan tetap. Jadi ada karir mba, Alhamdulillah,” ujarnya senang.
Maman, seorang lulusan SMA dengan seorang istri dan anak, masih berani menabur mimpi mendapat pekerjaan yang lebih baik dan halal. Aku sendiri, yang pendidikannya lebih tinggi, masih kerap diliputi bimbang ketika ingin keluar dari zona nyaman.
Ada semacam ketakutan Allah tidak membuka kran rezekinya dari pintu lain. Juga keengganan menerima perubahan yang bagi sebagian orang terasa melelahkan dan menyakitkan. Dari Maman, mataku dipaksa membuka lebar. Ternyata rezeki Allah itu tersebar. Tidak hanya di kantor tempat kita bekerja sekarang. Tetapi di pintu-pitu lain yang kerap kita tidak mengetahuinya dan menyangkanya. Karena, Dia, Pemilik Semesta, adalah Tuhan yang Maha Kaya. Kenapa kita masih meragukan pintu-pintu rezeki-Nya?
http://susansutardjo.blogdetik.com
http://nduksusan.blogspot.com
http://jendelasastra.com/susansutardjo
“Gajinya lebih besar di sana mbak,” kata Maman sumringah saat pamitan.
Aku lega Maman memperoleh pekerjaan lebih baik. Terlebih istrinya kala itu baru saja melahirkan anak pertama dan keluar dari pekerjaan sebagai buruh pabrik.
Sekitar dua bulan kemudian, Maman datang lagi ke kantor.
“Kok main ke sini, memangnya nggak kerja,” tanyaku.
“Saya sudah tidak kerja lagi, Mbak,” balasnya.
“Memangnya kenapa Man?”
“Gajinya habis untuk membeli bahan bakar, Mbak. Masak untuk mengantarkan barang harus menggunakan sepeda motor dan bensin dari kantong sendiri,” keluhnya.
Sebenarnya Maman tahu, pilihan keluar bukan jalan terbaik. Karena, ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya.
Guna menambal kebutuhan keluarga, Maman menjadi guru ngaji di sebuah mesjid di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
“Alhamdulillah, masih mendapat rezeki dari orang tua murid,” ujarnya tersenyum.
Meski demikian, keuangan keluarga Maman kian limbung. Maklum, honor guru ngaji sangat tiris dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beruntungnya, dua bulan kemudian datang panggilan kerja sebagai security di rumah salah seorang istri pengusaha di Kemang. Namun, pergolakan batin ia alami ketika bekerja di sini.
“Saya sering bertanya, sumber uang ini haram atau halal,” terangnya menjelaskan asal muasal uang majikannya yang menurutnya menyalahi norma.
Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan keluar. Ia kemudian melamar di sebuah perusahaan yang menangani maintenance beberapa gedung di kawasan Jakarta Selatan.
“Alhamdulillah, diterima. Dari 200 pelamar, saya termasuk 12 orang yang diterima,” ujarnya. Meski, bidang pekerjaannya lumayan berbahaya, membersihkan kaca gedung dengan gondola.
“Ada saudaraku yang bilang, kerjaan kayak gitu kok diterima,” kata Maman menambahkan,” Kujawab aja Mbak, daripada anak istri gue nggak makan?”
Meski bertaruh nyawa, Maman sangat bersyukur dengan gawean anyarnya.
“Alhamdulillah kantor ngasih gaji lumayan mbak ,” kata Maman bungah.
Dalam sebulan ia mengantongi gaji hampir Rp 2 juta dipotong jamsostek dan asuransi kesehatan.
Jam kerjanya juga terbilang lengang.
“Sore jam 3 sudah bisa pulang,” kata Maman.
Yang paling membuat Maman senang, ia diangkat menjadi karyawan tetap. “Selama ini saya jadi CS selalu kontrak, Mbak. Di sini saya diangkat menjadi karyawan tetap. Jadi ada karir mba, Alhamdulillah,” ujarnya senang.
Maman, seorang lulusan SMA dengan seorang istri dan anak, masih berani menabur mimpi mendapat pekerjaan yang lebih baik dan halal. Aku sendiri, yang pendidikannya lebih tinggi, masih kerap diliputi bimbang ketika ingin keluar dari zona nyaman.
Ada semacam ketakutan Allah tidak membuka kran rezekinya dari pintu lain. Juga keengganan menerima perubahan yang bagi sebagian orang terasa melelahkan dan menyakitkan. Dari Maman, mataku dipaksa membuka lebar. Ternyata rezeki Allah itu tersebar. Tidak hanya di kantor tempat kita bekerja sekarang. Tetapi di pintu-pitu lain yang kerap kita tidak mengetahuinya dan menyangkanya. Karena, Dia, Pemilik Semesta, adalah Tuhan yang Maha Kaya. Kenapa kita masih meragukan pintu-pintu rezeki-Nya?
http://susansutardjo.blogdetik.com
http://nduksusan.blogspot.com
http://jendelasastra.com/susansutardjo
Label:
Mencari rezeki,
Resign dari Pekerjaan
Minggu, 10 Oktober 2010
Nasib Ritel Pangan Lokal: Menjadi ‘Tamu’ di Negeri Sendiri
Kondisi ritel pangan lokal saat ini boleh dibilang di ujung tanduk. Selain harus bertahan di tengah serbuan produk impor, makanan warisan leluhur itu juga bertarung dengan perubahan selera lidah masyarakat yang gandrung makanan cepat saji, dan regulasi yang tidak mendukung. Keberpihakan pemerintah, masyarakat, dan stakeholder menjadi kunci penting keberlangsungan ritel pangan lokal.
Kekecewaan terilhat di raut Iwan, asisten manager sebuah perusahaan konsultan di Jakarta kala berlalu dari sebuah rumah makan di kota minyak di Kalimantan. Ia berharap bisa memanjakan lidahnya dengan suguhan masakan lokal. Sayangnya, hingga hari terakhir di kota itu, laki-laki berusia 30 tahunan itu tidak menemukan restoran bermenu lokal. “Rata-rata menu nasional dan junk food,” ujar pria berdarah Jawa yang lahir dan besar di Jakarta ini.
Lain cerita ketika ia ditugaskan di Makassar, Sulawesi Selatan. “Wah, saya puas banget mencoba berbagai makanan di daerah ini. Menu yang tak pernah ketinggalan adalah ikan,” katanya dengan mata berbinar. Sandiaga S. Uno, pengusaha nasional, ketika bertandang ke Semarang bertanya makanan apa yang harus dicoba di kota atlas itu lewat akun facebooknya. Jawaban yang muncul pun bisa ditebak. Mulai dari lumpia, wingko, soto Semarang, sate, ayam bakar, dll.
Setiap bertandang ke suatu daerah, kita akan terkaget-kaget dengan kuliner setempat yang beragam. Meski ada beberapa daerah yang miskin penganan lokal. Kadang kita menjumpai jenis makanan yang sama dengan daerah lain, tapi namanya beda. Misalnya masyarakat Jawa Tengah bagian utara menyebut makanan dari bahan ketan dengan isi kacang di dalamnya dengan nama dumbek. Sementara orang Sunda menamai kue basah itu dengan sebutan bacang.
Uniknya, sesama masyarakat Jawa kerap tidak sama menyebutkan satu jenis nama makanan. Contohnya kue nogosari yang terbuat dari tepung terigu dengan isi pisang. Sebagian masyarakat pesisir Jawa menamainya ciklek.
Kendati kuliner lokal memiliki potensi besar untuk berkembang, keberadaannya kini mulai tergilas oleh makanan cepat saji yang berasal dari luar negeri. Melihat berlimpahnya pangan global baik fast food hingga bahan makanan jadi, menyebabkan makanan lokal kita tidak lagi menjadi tuan rumah, tetapi tamu di negeri sendiri.
Proteksi, Sosialisasi, dan Festival Kuliner
Serbuan pangan global telah merubah selera lidah sebagian masyarakat dari makanan tradisional ke sajian cepat saji atau fast food. Tengoklah ke resto-resto kota besar, sebagian besar menjajakan menu makanan asing. Malangnya, kelangkaan makanan tradisional tidak hanya melanda kampung beton. Di desa-desa pun kini sebagian makanan tradisional kini menghilang. Seperti kue puntir, walang-walang, rondo royal yang sangat sulit ditemui di daerahku, Lasem, Jawa Tengah.
Jika kesadaran masyarakat melestarikan pangan tradisional terus menipis, mungkin 15 tahun lagi generasi sekarang tidak mengenal thiwul, ongol-ongol, gethuk, grontol, carabikang, dll. Minimnya konsumsi pangan tradisional secara langsung juga berpengaruh pada budidaya sumber makanan lokal seperti singkong, ubi, jagung, dll. Jika permintaan jarang, maka petani kita akan enggan menanam.
Dr Murdijati Gardjit, ahli makanan tradisional dari Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) UGM Yogyakarta, di situs Gatra.com mengatakan bahwa penganan tradisional berbahan baku lokal lambat laun terancam punah, karena lemahnya sosialiasi dan proteksi pemerintah. "Dengan banyaknya bermunculan makanan modern atau cepat saji, makanan tradisional terancam punah jika tidak ada proteksi dan dimulai dari dapur kita sendiri," jabarnya. Menjamurnya makanan cepat saji menyebabkan makanan tradisional berbahan baku lokal dilupakan, imbuhnya.
Mulai dari dapur sendiri, artinya setiap keluarga memasak sendiri makanan yang akan disajikan. Karena, kata Murdijati, salah satu faktor penyebab tepuruknya makanan tradisional adalah kebiasaan masyarakat sekarang yang memilih jalan pintas jajan di restoran atau warung makan ketimbang menyalakan api dapurnya sendiri.
.
Selain proteksi, kata Murdijati, perlu dilakukan sosialisasi. Semua elemen baik masyarakat, asosiasi jasa boga dan pemerintah harus ikut aktif mensosialisasikan makanan tradisional berbahan baku lokal, imbuhnya.
Salah satu contoh kegiatan sosialisasi yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan festival kuliner warisan leluhur. Dari lingkup paling kecil seperti RT, RW, kecamatan dan kabupaten menggelar kegiatan ini setahun sekali. Festival diisi dengan pameran makanan tradisional dan lomba memasak. Selain itu juga perlu diadakan lomba memakan bagi remaja dan anak-anak untuk mengenalkan kekayaan kuliner leluhur.
Peningkatan Mutu, Pengemasan, dan Inovasi
Kemasan menarik dan kesan modern menjadi salah satu daya tarik fast food. Agar masyarakat tertarik pada makanan tradisional, sebisa mungkin kemasan makanan tradisional dibuat eye catching. Kita bisa mencontoh produk makanan kecil di Cina yang dikemas dengan bungkus menarik.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mutu makanan. Kualitas makanan harus bagus dengan pemilihan bahan lokal berkualitas. Lebih baik jika dilengkapi dengan izin dari BPOM dan labe halal untuk menjamin keamanan dan menambah kepercayaan konsumen.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencuri hati konsumen adalah melakukan inovasi pangan. Kue tradisional seperti getuk yang semula hanya terbuat dari singkong bisa ditambah dengan keju sehingga melahirkan varian baru. Hal ini berlaku untuk penganan lain. Kita bisa memadukan bahan makanan lokal standar dengan produk pangan global.
Kampanye Hidup Sehat
Eksistensi makanan tradisional akan kembali berkibar jika kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat kian meningkat. Salah satu faktor pendukung gaya hidup sehat adalah pola makan. Banyaknya penyakit degeneratif yang menyerang masyarakat modern salah satunya disebabkan junk food atau makanan sampah yang kaya kolesterol dan minim gizi.
Murdijati seperti yang tertulis di Gatra.com menilai masyarakat sekarang lebih mengejar kenikmatan ketimbang manfaat yang terkandung dalam makanan. “Saat ini orang lebih cenderung berpikir instan dalam memilih makan sehingga kurang mempertimbangkan kandungan dan nilai gizi dalam makanan tersebut. Sehingga tidak heran saat ini banyak warga yang menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, koleseterol.”
Prof dr. Muhammad Sulchan, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di salah satu artikel di suarakarya-online.com juga mengungkapkan junk food menjadi salah satu pemicu penyakit kanker. “Globalisasi mendorong terjadinya perubahan radikal dalam sistem ritel pangan, yang ditandai dengan menjamurnya hypermarket, restoran cepat saji, waralaba, food court dari berbagai penjuru dunia yang sebagian besar menyajikan junk food atau makanan sampah dengan resiko terkena kanker sangat tinggi,” papar Sulchan. Proses pengolahan dan pematangan fast food beresiko menyebabkan kanker, imbuhnya.
Guna mengurangi kanker, Sulchan menyarankan agar masyarakat lebih banyak mengkonsumsi makanan lokal berbahan baku alami dan diolah secara tradisional. Ia menambahkan mengkonsumsi tahu dan tempe dari kedelai lokal lebih sehat ketimbang kedelai impor.
Bersinergi atau Membatasi Ritel Modern?
Sejengkal kaki melangkah di jalanan ibukota, kita akan menemui ritel modern baik dari dalam negeri maupun asing. Entah itu minimarket ataupun area shopping mall. Sehingga, bisa dibilang sejauh mata memandang yang terlihat adalah deretan ritel moderen.
Ritel modern jumlahnya terus menggunung meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) No. 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta dan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 44 tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di DKI Jakarta. Aturan ini menegaskan jarak minimal pasar tradisional dengan ritel modern sekitar 2,5 km.
Realitanya, kita kerap menemui tiadanya jarak antara ritel modern dengan pasar tradisional. Dan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, antara satu ritel modern dengan yang lain jaraknya hanya satu depa atau hanya dipisahkan oleh tembok.
Meski kondisi di lapangan berkata tidak ada zonasi, dan aturan hanya tinggal sebuah tulisan di atas kertas, seorang pejabat di Pemprov DKI Jakarta seperti yang dimuat di mediacenterkopukm.com mengatakan zonasi tetap berlaku. Namun, buru-buru ia menambahkan, sepanjang barang yang diperjualbelikan berbeda tidak ada masalah. Lemahnya pengawasan pemerintah member ruang gerak selebar-lebarnya bagi peritel asing.
"Aturannya sudah tepat, tapi yang masih lemah adalah pengawasan pelaksanaan peritel asing," kata dia.
Dengan masifnya jumlah mereka, bisa dipastikan makanan tradisional pun menyurut. Pasalnya, sebagian besar content makanan yang dijual adalah produk pangan global. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, upaya yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana ritel-ritel itu memberi ruang bagi produk makanan tradisional kita. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Perindustrian berencana meningkatkan volume penyerapan pangan lokal skala industri kecil dan menengah pada ritel modern menjadi 25%. Hingga tahun 2009 penyerapan usaha ritel produk IKM pangan lokal ke area perbelanjaan modern baru sekitar 10%.
Tahun 2007 jumlah IKM pangan lokal yang memproduksi makanan tradisional sebanyak 140 ribu unit dengan konsentrasi terbesar di Pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan mencapai 340 ribu orang. Berdasarkan data Depperin seperti yang dimuat di situs kontan.co.id, jumlah IKM pangan pada 2008 tercatat 18.064 unit dengan tenaga kerja sebanyak 57.438 orang. Jika mengacu data terakhir (2008) berarti ada penurunan IKM secara kuantitas.
Namun, peningkatan daya serap tidak cukup tanpa membatasi keberadaan ritel modern. Bagaimana mungkin pangan lokal bisa berkembang jika ia hanya menjadi tamu di area ritel modern yang kini menjajah ruang perkotaan hingga perkampungan. Sudah saatnya pemerintah sungguh-sungguh memberikan nafas bagi ritel pangan lokal untuk menghidupkan makanan tradisional.
Waralaba Pangan Berbahan Lokal
Potensi makanan lokal yang besar namun belum tergali secara optimal bisa diselesaikan dengan mewaralabakan pangan lokal. Tentunya sebelum menjadi item waralaba dan business opportunity (BO), produk tsb telah dikenal dan digemari masyarakat. Sayangnya, beberapa tahun terakhir, dari sekian banyak waralaba pangan lokal berbahan lokal hanya sedikit yang mampu bertahan.
Tiga tahun lalu BO minuman teh kemasan sangat menjanjikan. Dengan modal kecil sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta sudah bisa membeli BO minuman teh kemasan. Omset yang diperoleh pun terhitung lumayan. Namun, seiring kian banyaknya pemain sejenis, maka omset bisnis minuman ini pun mulai menurun. Seorang teman yang memiliki satu booth minuman teh kemasan mengeluh. “Boomingnya hanya tiga tahun,” ujarnya.
Nasib serupa juga dialami BO lain seperti singkong keju yang laris manis bak kacang goreng sekitar dua tahun lalu. Lalu banyak orang bermain di bisnis ini. Hasilnya, kompetisi pun kian ketat. Bahkan, kini kita jarang menemui lagi singkong keju yang biasanya dijajakan di gerobakan.
Pelaku usaha yang akan mewaralabakan produknya seharusnya memiliki plan business, riset matang tentang pengembangan produk, SDM, dan pemasaran. Sehingga, umur usaha tidak sesingkat tanaman jagung. Mereka harus banyak belajar pada waralaba asing yang bisa menyebar produknya di seantero dunia. Meski ada beberapa waralaba makanan lokal yang masih eksis hingga sekarang, sayangnya mereka mengembangkan makanan asing dengan bahan baku impor. Sehingga, perkembangan usahanya tidak berpengaruh pada kemajuan pertanian kita.
Permodalan dan Perizinan
Salah satu kendala yang dihadapi sebagian besar pelaku industri pangan lokal adalah permodalan. Saat ini pemerintah mengeluarkan program KUR atau kredit usaha rakyat yang bertujuan membantu akses permodalan bagi pelaku IKM. Sayangnya, hanya sebagian dari pelaku UKM di bidang pangan yang di-cover modal perbankan. Selebihnya masih terjerat bunga panas rentenir.
Sejatinya pemerintah telah berupaya memperluas akses pembiayaan KUR dengan menggandeng Bank Pembangunan Daerah sebagai bank semula. Semula KUR hanya disaurkan enam bank nasional. Lagi-lagi kondisi di lapangan tidak semanis kesepakatan yang telah disetujui. Banyak dana KUR yang akhirnya hanya parkir.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam men-support pangan lokal adalah perizinan usaha. Sejumlah pelaku UKM di bidang pangan mengeluhkan lamanya proses perizinan di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan makanan). Hal tersebut sangat kontras dengan izin impor yang terbilang kilat.
Ketua Apindo Sofyan Wanandi seperti dikutip di bisnis Indonesia.com menegaskan jika pemerintah serius mendukung industri dalam negeri, proses perizinan di BPOM diharapkan dipermudah dan dipersingkat. "Kasihan industri kita ini, dipersulit, diputar-putar. Paling cepat 7 bulan mereka mengurus perizinan. Rata-rata di atas 1 tahun, bahkan ada yang 2 tahun."
Sangat disayangkan dan menjadi kerugian besar bagi bangsa ini jika generasi mendatang hanya mengenal donat, fried chicken, burger, wafel, es krim, pancake, french fries, kebab, dll yang notabene merupakan produk asli luar dengan bahan baku impor. Sementara makanan tradisional berbahan baku lokal terlantar dan tidak dipedulikan.
Sudah menjadi keharusan ketika sebagian dari kita terbiasa mengkonsumsi makanan luar, pangan lokal pun juga dikenal di negeri orang. Bukan sebaliknya, pangan global menjajah kita, sementara pangan lokal mati secara pelan-pelan. Saya membayangkan penganan tradisional kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa go international dan diwaralabakan. Ah, akankah mimpi itu menjadi kenyataan? Atau hanya khayalan yang tetap menggantung di awan-awan. Pangan lokalku, ah nafas kehidupanku.
Susan Sutardjo
Kekecewaan terilhat di raut Iwan, asisten manager sebuah perusahaan konsultan di Jakarta kala berlalu dari sebuah rumah makan di kota minyak di Kalimantan. Ia berharap bisa memanjakan lidahnya dengan suguhan masakan lokal. Sayangnya, hingga hari terakhir di kota itu, laki-laki berusia 30 tahunan itu tidak menemukan restoran bermenu lokal. “Rata-rata menu nasional dan junk food,” ujar pria berdarah Jawa yang lahir dan besar di Jakarta ini.
Lain cerita ketika ia ditugaskan di Makassar, Sulawesi Selatan. “Wah, saya puas banget mencoba berbagai makanan di daerah ini. Menu yang tak pernah ketinggalan adalah ikan,” katanya dengan mata berbinar. Sandiaga S. Uno, pengusaha nasional, ketika bertandang ke Semarang bertanya makanan apa yang harus dicoba di kota atlas itu lewat akun facebooknya. Jawaban yang muncul pun bisa ditebak. Mulai dari lumpia, wingko, soto Semarang, sate, ayam bakar, dll.
Setiap bertandang ke suatu daerah, kita akan terkaget-kaget dengan kuliner setempat yang beragam. Meski ada beberapa daerah yang miskin penganan lokal. Kadang kita menjumpai jenis makanan yang sama dengan daerah lain, tapi namanya beda. Misalnya masyarakat Jawa Tengah bagian utara menyebut makanan dari bahan ketan dengan isi kacang di dalamnya dengan nama dumbek. Sementara orang Sunda menamai kue basah itu dengan sebutan bacang.
Uniknya, sesama masyarakat Jawa kerap tidak sama menyebutkan satu jenis nama makanan. Contohnya kue nogosari yang terbuat dari tepung terigu dengan isi pisang. Sebagian masyarakat pesisir Jawa menamainya ciklek.
Kendati kuliner lokal memiliki potensi besar untuk berkembang, keberadaannya kini mulai tergilas oleh makanan cepat saji yang berasal dari luar negeri. Melihat berlimpahnya pangan global baik fast food hingga bahan makanan jadi, menyebabkan makanan lokal kita tidak lagi menjadi tuan rumah, tetapi tamu di negeri sendiri.
Proteksi, Sosialisasi, dan Festival Kuliner
Serbuan pangan global telah merubah selera lidah sebagian masyarakat dari makanan tradisional ke sajian cepat saji atau fast food. Tengoklah ke resto-resto kota besar, sebagian besar menjajakan menu makanan asing. Malangnya, kelangkaan makanan tradisional tidak hanya melanda kampung beton. Di desa-desa pun kini sebagian makanan tradisional kini menghilang. Seperti kue puntir, walang-walang, rondo royal yang sangat sulit ditemui di daerahku, Lasem, Jawa Tengah.
Jika kesadaran masyarakat melestarikan pangan tradisional terus menipis, mungkin 15 tahun lagi generasi sekarang tidak mengenal thiwul, ongol-ongol, gethuk, grontol, carabikang, dll. Minimnya konsumsi pangan tradisional secara langsung juga berpengaruh pada budidaya sumber makanan lokal seperti singkong, ubi, jagung, dll. Jika permintaan jarang, maka petani kita akan enggan menanam.
Dr Murdijati Gardjit, ahli makanan tradisional dari Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) UGM Yogyakarta, di situs Gatra.com mengatakan bahwa penganan tradisional berbahan baku lokal lambat laun terancam punah, karena lemahnya sosialiasi dan proteksi pemerintah. "Dengan banyaknya bermunculan makanan modern atau cepat saji, makanan tradisional terancam punah jika tidak ada proteksi dan dimulai dari dapur kita sendiri," jabarnya. Menjamurnya makanan cepat saji menyebabkan makanan tradisional berbahan baku lokal dilupakan, imbuhnya.
Mulai dari dapur sendiri, artinya setiap keluarga memasak sendiri makanan yang akan disajikan. Karena, kata Murdijati, salah satu faktor penyebab tepuruknya makanan tradisional adalah kebiasaan masyarakat sekarang yang memilih jalan pintas jajan di restoran atau warung makan ketimbang menyalakan api dapurnya sendiri.
.
Selain proteksi, kata Murdijati, perlu dilakukan sosialisasi. Semua elemen baik masyarakat, asosiasi jasa boga dan pemerintah harus ikut aktif mensosialisasikan makanan tradisional berbahan baku lokal, imbuhnya.
Salah satu contoh kegiatan sosialisasi yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan festival kuliner warisan leluhur. Dari lingkup paling kecil seperti RT, RW, kecamatan dan kabupaten menggelar kegiatan ini setahun sekali. Festival diisi dengan pameran makanan tradisional dan lomba memasak. Selain itu juga perlu diadakan lomba memakan bagi remaja dan anak-anak untuk mengenalkan kekayaan kuliner leluhur.
Peningkatan Mutu, Pengemasan, dan Inovasi
Kemasan menarik dan kesan modern menjadi salah satu daya tarik fast food. Agar masyarakat tertarik pada makanan tradisional, sebisa mungkin kemasan makanan tradisional dibuat eye catching. Kita bisa mencontoh produk makanan kecil di Cina yang dikemas dengan bungkus menarik.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mutu makanan. Kualitas makanan harus bagus dengan pemilihan bahan lokal berkualitas. Lebih baik jika dilengkapi dengan izin dari BPOM dan labe halal untuk menjamin keamanan dan menambah kepercayaan konsumen.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencuri hati konsumen adalah melakukan inovasi pangan. Kue tradisional seperti getuk yang semula hanya terbuat dari singkong bisa ditambah dengan keju sehingga melahirkan varian baru. Hal ini berlaku untuk penganan lain. Kita bisa memadukan bahan makanan lokal standar dengan produk pangan global.
Kampanye Hidup Sehat
Eksistensi makanan tradisional akan kembali berkibar jika kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat kian meningkat. Salah satu faktor pendukung gaya hidup sehat adalah pola makan. Banyaknya penyakit degeneratif yang menyerang masyarakat modern salah satunya disebabkan junk food atau makanan sampah yang kaya kolesterol dan minim gizi.
Murdijati seperti yang tertulis di Gatra.com menilai masyarakat sekarang lebih mengejar kenikmatan ketimbang manfaat yang terkandung dalam makanan. “Saat ini orang lebih cenderung berpikir instan dalam memilih makan sehingga kurang mempertimbangkan kandungan dan nilai gizi dalam makanan tersebut. Sehingga tidak heran saat ini banyak warga yang menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, koleseterol.”
Prof dr. Muhammad Sulchan, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di salah satu artikel di suarakarya-online.com juga mengungkapkan junk food menjadi salah satu pemicu penyakit kanker. “Globalisasi mendorong terjadinya perubahan radikal dalam sistem ritel pangan, yang ditandai dengan menjamurnya hypermarket, restoran cepat saji, waralaba, food court dari berbagai penjuru dunia yang sebagian besar menyajikan junk food atau makanan sampah dengan resiko terkena kanker sangat tinggi,” papar Sulchan. Proses pengolahan dan pematangan fast food beresiko menyebabkan kanker, imbuhnya.
Guna mengurangi kanker, Sulchan menyarankan agar masyarakat lebih banyak mengkonsumsi makanan lokal berbahan baku alami dan diolah secara tradisional. Ia menambahkan mengkonsumsi tahu dan tempe dari kedelai lokal lebih sehat ketimbang kedelai impor.
Bersinergi atau Membatasi Ritel Modern?
Sejengkal kaki melangkah di jalanan ibukota, kita akan menemui ritel modern baik dari dalam negeri maupun asing. Entah itu minimarket ataupun area shopping mall. Sehingga, bisa dibilang sejauh mata memandang yang terlihat adalah deretan ritel moderen.
Ritel modern jumlahnya terus menggunung meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) No. 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta dan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 44 tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di DKI Jakarta. Aturan ini menegaskan jarak minimal pasar tradisional dengan ritel modern sekitar 2,5 km.
Realitanya, kita kerap menemui tiadanya jarak antara ritel modern dengan pasar tradisional. Dan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, antara satu ritel modern dengan yang lain jaraknya hanya satu depa atau hanya dipisahkan oleh tembok.
Meski kondisi di lapangan berkata tidak ada zonasi, dan aturan hanya tinggal sebuah tulisan di atas kertas, seorang pejabat di Pemprov DKI Jakarta seperti yang dimuat di mediacenterkopukm.com mengatakan zonasi tetap berlaku. Namun, buru-buru ia menambahkan, sepanjang barang yang diperjualbelikan berbeda tidak ada masalah. Lemahnya pengawasan pemerintah member ruang gerak selebar-lebarnya bagi peritel asing.
"Aturannya sudah tepat, tapi yang masih lemah adalah pengawasan pelaksanaan peritel asing," kata dia.
Dengan masifnya jumlah mereka, bisa dipastikan makanan tradisional pun menyurut. Pasalnya, sebagian besar content makanan yang dijual adalah produk pangan global. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, upaya yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana ritel-ritel itu memberi ruang bagi produk makanan tradisional kita. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Perindustrian berencana meningkatkan volume penyerapan pangan lokal skala industri kecil dan menengah pada ritel modern menjadi 25%. Hingga tahun 2009 penyerapan usaha ritel produk IKM pangan lokal ke area perbelanjaan modern baru sekitar 10%.
Tahun 2007 jumlah IKM pangan lokal yang memproduksi makanan tradisional sebanyak 140 ribu unit dengan konsentrasi terbesar di Pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan mencapai 340 ribu orang. Berdasarkan data Depperin seperti yang dimuat di situs kontan.co.id, jumlah IKM pangan pada 2008 tercatat 18.064 unit dengan tenaga kerja sebanyak 57.438 orang. Jika mengacu data terakhir (2008) berarti ada penurunan IKM secara kuantitas.
Namun, peningkatan daya serap tidak cukup tanpa membatasi keberadaan ritel modern. Bagaimana mungkin pangan lokal bisa berkembang jika ia hanya menjadi tamu di area ritel modern yang kini menjajah ruang perkotaan hingga perkampungan. Sudah saatnya pemerintah sungguh-sungguh memberikan nafas bagi ritel pangan lokal untuk menghidupkan makanan tradisional.
Waralaba Pangan Berbahan Lokal
Potensi makanan lokal yang besar namun belum tergali secara optimal bisa diselesaikan dengan mewaralabakan pangan lokal. Tentunya sebelum menjadi item waralaba dan business opportunity (BO), produk tsb telah dikenal dan digemari masyarakat. Sayangnya, beberapa tahun terakhir, dari sekian banyak waralaba pangan lokal berbahan lokal hanya sedikit yang mampu bertahan.
Tiga tahun lalu BO minuman teh kemasan sangat menjanjikan. Dengan modal kecil sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta sudah bisa membeli BO minuman teh kemasan. Omset yang diperoleh pun terhitung lumayan. Namun, seiring kian banyaknya pemain sejenis, maka omset bisnis minuman ini pun mulai menurun. Seorang teman yang memiliki satu booth minuman teh kemasan mengeluh. “Boomingnya hanya tiga tahun,” ujarnya.
Nasib serupa juga dialami BO lain seperti singkong keju yang laris manis bak kacang goreng sekitar dua tahun lalu. Lalu banyak orang bermain di bisnis ini. Hasilnya, kompetisi pun kian ketat. Bahkan, kini kita jarang menemui lagi singkong keju yang biasanya dijajakan di gerobakan.
Pelaku usaha yang akan mewaralabakan produknya seharusnya memiliki plan business, riset matang tentang pengembangan produk, SDM, dan pemasaran. Sehingga, umur usaha tidak sesingkat tanaman jagung. Mereka harus banyak belajar pada waralaba asing yang bisa menyebar produknya di seantero dunia. Meski ada beberapa waralaba makanan lokal yang masih eksis hingga sekarang, sayangnya mereka mengembangkan makanan asing dengan bahan baku impor. Sehingga, perkembangan usahanya tidak berpengaruh pada kemajuan pertanian kita.
Permodalan dan Perizinan
Salah satu kendala yang dihadapi sebagian besar pelaku industri pangan lokal adalah permodalan. Saat ini pemerintah mengeluarkan program KUR atau kredit usaha rakyat yang bertujuan membantu akses permodalan bagi pelaku IKM. Sayangnya, hanya sebagian dari pelaku UKM di bidang pangan yang di-cover modal perbankan. Selebihnya masih terjerat bunga panas rentenir.
Sejatinya pemerintah telah berupaya memperluas akses pembiayaan KUR dengan menggandeng Bank Pembangunan Daerah sebagai bank semula. Semula KUR hanya disaurkan enam bank nasional. Lagi-lagi kondisi di lapangan tidak semanis kesepakatan yang telah disetujui. Banyak dana KUR yang akhirnya hanya parkir.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam men-support pangan lokal adalah perizinan usaha. Sejumlah pelaku UKM di bidang pangan mengeluhkan lamanya proses perizinan di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan makanan). Hal tersebut sangat kontras dengan izin impor yang terbilang kilat.
Ketua Apindo Sofyan Wanandi seperti dikutip di bisnis Indonesia.com menegaskan jika pemerintah serius mendukung industri dalam negeri, proses perizinan di BPOM diharapkan dipermudah dan dipersingkat. "Kasihan industri kita ini, dipersulit, diputar-putar. Paling cepat 7 bulan mereka mengurus perizinan. Rata-rata di atas 1 tahun, bahkan ada yang 2 tahun."
Sangat disayangkan dan menjadi kerugian besar bagi bangsa ini jika generasi mendatang hanya mengenal donat, fried chicken, burger, wafel, es krim, pancake, french fries, kebab, dll yang notabene merupakan produk asli luar dengan bahan baku impor. Sementara makanan tradisional berbahan baku lokal terlantar dan tidak dipedulikan.
Sudah menjadi keharusan ketika sebagian dari kita terbiasa mengkonsumsi makanan luar, pangan lokal pun juga dikenal di negeri orang. Bukan sebaliknya, pangan global menjajah kita, sementara pangan lokal mati secara pelan-pelan. Saya membayangkan penganan tradisional kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa go international dan diwaralabakan. Ah, akankah mimpi itu menjadi kenyataan? Atau hanya khayalan yang tetap menggantung di awan-awan. Pangan lokalku, ah nafas kehidupanku.
Susan Sutardjo
Kamis, 30 September 2010
Lomba Surat Untukmu, Nak
Ungkapkan perasaan hati Anda saat menunggu kehadiran buah hati di tengah keluarga Anda. Siapa tahu Anda berkesempatan memberi hadiah yang lebih istimewa berupa buku? Berikut ini informasi lomba yang diselenggarakan oleh Azkah Madihah:
DESKRIPSI LOMBA
Lomba ini terbuka untuk umum. Tujuan utamanya adalah untuk membuat buku berjudul sama, “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” dan “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu.” Berisi ungkapan hati seorang calon ibu dan ayah yang ingin disampaikan kepada anak-anaknya kelak. Contoh penggalan surat ada dalam postingan ini: “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” meski pun bukan merupakan format baku dalam penulisan surat, silakan berkreasi dengan jenis dan teknik penulisan maupun gaya bahasa.
PERSYARATAN LOMBA
Lomba penulisan surat ini memiliki persyaratan umum sebagai berikut:
1. Peserta diperkenankan memilih kategori surat yang diikutsertakan dalam lomba, yaitu:
1. “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” Diperuntukkan bagi para perempuan, baik yang sudah menikah atau pun belum, yang belum memiliki anak. Diperkenankan bagi calon ibu yang sedang mengandung anak pertamanya.
2. “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu.” Diperuntukkan bagi para lelaki, baik yang sudah menikah atau pun belum, yang belum memiliki anak.
2. Lomba ini terbuka bagi kalangan umum, dengan latar belakang apa pun.
3. Surat merupakan karya sendiri, asli, bukan terjemahan maupun saduran karya orang lain, jiplakan, atau plagiat (karya orang lain).
4. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Panjang tulisan adalah 2 (dua) sampai 3 (tiga) halaman A4 dengan font Times New Roman ukuran 12 pt, spasi tunggal tanpa ilustrasi atau foto.
6. Karya tidak sedang dan belum pernah diikutkan dalam lomba lain.
7. Setiap penulis dapat mengirimkan lebih dari satu tulisan.
8. Peserta tidak dipungut biaya apapun.
PENGIRIMAN KARYA TULIS
1. Surat dikirimkan dalam bentuk attachment file Microsoft Word (.doc, .docx, .rtf) ataupun PDF ke email azka.madihah@gmail.com atau azka.madihah@yahoo.com beserta biodata penulis. Format bagi judul email adalah [Surat Untukmu, Nak: “Judul Surat yang Diikutsertakan dalam Lomba”].
2. Bagi yang memublikasikan karya suratnya di laman website atau weblog, mohon cantumkan URL postingan ini (http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat) dalam karyanya, agar semakin banyak yang mengetahui tentang lomba ini. Silakan cantumkan juga alamat URL postingan Anda tersebut dalam email yang dikirimkan ke alamat di atas.
3. Panitia paling lambat menerima file naskah surat paling lambat pada 6 Oktober 2010, berdasarkan Waktu Indonesia Barat (WIB) yang tercantum dalam format pengiriman e-mail penerimaan.
HADIAH
Hadiah yang disiapkan sebagai tanda penghargaan atas partisipasi peserta ialah:
Juara I Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Juara II Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 300.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Juara III Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 200.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Apabila buku jadi diterbitkan, setiap karya yang masuk ke dalam buku “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu.” akan mendapatkan sertifikat penghargaan dan satu eksemplar buku yang diterbitkan. Tanda penghargaan ini akan dikirimkan maksimal satu bulan setelah buku diterbitkan.
PENJURIAN
1. Penjurian akan dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama oleh juri seleksi tahap pertama yang dilakukan pada 6-13 Oktober 2010.
2. Penjurian tahap kedua dilakukan untuk menilai naskah yang lolos tahap pertama, dan dilakukan pada 14-21 Oktober 2010.
PENGUMUMAN PEMENANG
Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 28 Oktober 2010 di weblog http://azkamadihah.wordpress.com.
KETENTUAN LAIN
1. Panitia memiliki hak menerbitkan tulisan-tulisan yang masuk menjadi sebuah buku dan memiliki hak atas pemasukan yang diterima dari buku tersebut.
2. Panitia membuka kesempatan berkorespondensi dengan pengirim karya melalui alamat email yang tercantum di atas. Dapat pula mengirimkan pertanyaan kepada Aisha (aachan_putri@yahoo.com).
3. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
Sumber: http://azkamadihah.wordpress.com/2010/09/06/lomba-surat-untukmu-nak-dari-calon-ibumuayahmu
DESKRIPSI LOMBA
Lomba ini terbuka untuk umum. Tujuan utamanya adalah untuk membuat buku berjudul sama, “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” dan “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu.” Berisi ungkapan hati seorang calon ibu dan ayah yang ingin disampaikan kepada anak-anaknya kelak. Contoh penggalan surat ada dalam postingan ini: “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” meski pun bukan merupakan format baku dalam penulisan surat, silakan berkreasi dengan jenis dan teknik penulisan maupun gaya bahasa.
PERSYARATAN LOMBA
Lomba penulisan surat ini memiliki persyaratan umum sebagai berikut:
1. Peserta diperkenankan memilih kategori surat yang diikutsertakan dalam lomba, yaitu:
1. “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.” Diperuntukkan bagi para perempuan, baik yang sudah menikah atau pun belum, yang belum memiliki anak. Diperkenankan bagi calon ibu yang sedang mengandung anak pertamanya.
2. “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu.” Diperuntukkan bagi para lelaki, baik yang sudah menikah atau pun belum, yang belum memiliki anak.
2. Lomba ini terbuka bagi kalangan umum, dengan latar belakang apa pun.
3. Surat merupakan karya sendiri, asli, bukan terjemahan maupun saduran karya orang lain, jiplakan, atau plagiat (karya orang lain).
4. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Panjang tulisan adalah 2 (dua) sampai 3 (tiga) halaman A4 dengan font Times New Roman ukuran 12 pt, spasi tunggal tanpa ilustrasi atau foto.
6. Karya tidak sedang dan belum pernah diikutkan dalam lomba lain.
7. Setiap penulis dapat mengirimkan lebih dari satu tulisan.
8. Peserta tidak dipungut biaya apapun.
PENGIRIMAN KARYA TULIS
1. Surat dikirimkan dalam bentuk attachment file Microsoft Word (.doc, .docx, .rtf) ataupun PDF ke email azka.madihah@gmail.com atau azka.madihah@yahoo.com beserta biodata penulis. Format bagi judul email adalah [Surat Untukmu, Nak: “Judul Surat yang Diikutsertakan dalam Lomba”].
2. Bagi yang memublikasikan karya suratnya di laman website atau weblog, mohon cantumkan URL postingan ini (http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat) dalam karyanya, agar semakin banyak yang mengetahui tentang lomba ini. Silakan cantumkan juga alamat URL postingan Anda tersebut dalam email yang dikirimkan ke alamat di atas.
3. Panitia paling lambat menerima file naskah surat paling lambat pada 6 Oktober 2010, berdasarkan Waktu Indonesia Barat (WIB) yang tercantum dalam format pengiriman e-mail penerimaan.
HADIAH
Hadiah yang disiapkan sebagai tanda penghargaan atas partisipasi peserta ialah:
Juara I Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Juara II Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 300.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Juara III Lomba Menulis “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu” (untuk satu orang, tidak dipisahkan antarkategori) memperoleh plakat, uang senilai Rp. 200.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dan novel “Rahim” karya Fahd Djibran.
Apabila buku jadi diterbitkan, setiap karya yang masuk ke dalam buku “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu.” akan mendapatkan sertifikat penghargaan dan satu eksemplar buku yang diterbitkan. Tanda penghargaan ini akan dikirimkan maksimal satu bulan setelah buku diterbitkan.
PENJURIAN
1. Penjurian akan dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama oleh juri seleksi tahap pertama yang dilakukan pada 6-13 Oktober 2010.
2. Penjurian tahap kedua dilakukan untuk menilai naskah yang lolos tahap pertama, dan dilakukan pada 14-21 Oktober 2010.
PENGUMUMAN PEMENANG
Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 28 Oktober 2010 di weblog http://azkamadihah.wordpress.com.
KETENTUAN LAIN
1. Panitia memiliki hak menerbitkan tulisan-tulisan yang masuk menjadi sebuah buku dan memiliki hak atas pemasukan yang diterima dari buku tersebut.
2. Panitia membuka kesempatan berkorespondensi dengan pengirim karya melalui alamat email yang tercantum di atas. Dapat pula mengirimkan pertanyaan kepada Aisha (aachan_putri@yahoo.com).
3. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
Sumber: http://azkamadihah.wordpress.com/2010/09/06/lomba-surat-untukmu-nak-dari-calon-ibumuayahmu
Label:
Lomba Menulis,
Lomba Surat Untukmu,
Nak
Rabu, 29 September 2010
Meminimalisir Korban Jiwa dengan Melek Gempa
Gempa tidak membunuh. Yang merenggut nyawa adalah material yang jatuh menimpa manusia. Melek gempa menjadi upaya meminimalisir korban jiwa.
Muthia, salah seorang keponakanku yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar swasta sepulang sekolah bertanya soal gempa kepadaku. “Tante, kenapa kalau terjadi gempa bumi kita mesti sembunyi di kolong meja ya?” “Agar tubuh kita terlindung dari reruntuhan, sayang,” jawabku. Muthia mengangguk. Ia kemudian cerita tanggap gempa yang diajarkan gurunya di sekolah.
Materi tentang gempa dan hal-hal yang harus dilakukan sebagai upaya penyelamatan ketika bencana itu terjadi memang mutlak diajarkan di sekolah. Tidak hanya di sekolah, sebagian perkantoran di Jakarta saat ini juga kerap mengadakan simulasi penyelamatan kala gempa melanda. Sirine akan dibunyikan dan karyawan keluar gedung melalui tangga darurat jika berada di lantai bertingkat.
Sosialisasi tindakan tanggap gempa seharusnya juga gencar dilakukan kepada masyarakat. Entah itu melalui forum PKK, arisan, pengajian, ataupun media televisi. Pemerintah melalui perangkatnya hingga tingkat kelurahan dan RT bisa membuat program sadar gempa.
Mengapa melek gempa urgen bagi kita? Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan gempa. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia menyebabkan Indonesia salah satu lahan subur gempa. Mengapa demikian? Karena aktivitas tektonik akan aktif terus. Selain itu, rapuhnya batas kontinen juga ikut menyumbang terjadinya gempa. Wajar jika gempa menjadi bencana rutin yang memporak porandakan sebagian daerah di Indonesia.
Desember 2004 gempa dahsyat hampir 9 skala richter mengguncang sebagian Sumatera dengan tsunami mengiringinya. Kerusakan paling parah terjadi di Aceh dengan korban jiwa mencapai 283.106 orang. Disusul gempa di Nias, Kutacane, Aceh Tenggara, dan Bahorok Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Padang Sumatera Barat pada September tahun lalu.
Seringnya gempa menggoyang Sumatera disebabkan gerak patahan di sepanjang pulau dan pergeseran bertemunya lempeng Indo-Asia dan Eurasia. Gempa akan terus mengancam hingga gerakan patahan mencapai titik stabil.
Malangnya, tidak hanya Pulau Sumatera yang rawan gempa. Gempa pernah meratakan sebagian rumah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta, Tasikmalaya, dll. Menurut Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) sebagian besar wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan Papua rawan gempa. Penyebabnya tak lain adalah gerakan ketiga lempeng sekitar 3 hingga 4 cm tiap tahun.
Tindakan Saat Gempa
Dengan kondisi geografis rawan gempa maka setiap warga yang bermukim di daerah rawan gempa harus aware. Artinya, tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan baik tindakan preventif sebelum gempa dan saat gempa mengguncang daerahnya. Karena yang berbahaya dari bencana gempa adalah material rumah dan benda tajam lain yang rubuh akibat aktivitas gempa.
Sebelum Gempa: Tindakan Preventif
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan warga dan pemerintah sebagai upaya preventif pencegahan korban jiwa.
-Bangunan Tahan Gempa
Masyarakat seyogyanya mendesain rumahnya tahan gempa. Demikian juga pemerintah, harus mendesain gedung perkantoran pemerintah dan mewajibkan perkantoran swasta dan pertokoan bandel jika diguncang gempang. Kalau pun desain rumah atau kantor tidak tahan gempa, sebisa mungkin material rumah tidak berbahaya. Misalnya tidak menggunakan genting beton yang beratnya lumayan untuk atap rumah atau perkantoran. Sebaiknya menggunakan material ringan sebagai atap rumah, perkantoran, dan pertokoan.
-Siapkan Sembako di Bawah Tanah
Saat gempa mengguncang, keberadaan sembako menjadi langka. Kita tidak bisa menggantungkan pada bantuan yang datang. Sebaiknya menyimpan sembako seperti mie instan, beras, dan biskuit di bunker atau bawah tanah dan diganti secara berkala. Mengapa di bawah tanah? Karena kalau disimpan seperti biasa kemungkinan besar sembako tertimbun karena tertimpa material bangunan.
-Simpan Air Mineral Galon
Komponen penting yang paling dibutuhkan saat gempa adalah ketersediaan air bersih. Karena biasanya jaringan listrik mati, bangunan runtuh, dan aktivitas transportasi kota lumpuh, maka air bersih menjadi langka. Simpan beberapa air mineral gallon di bawah tanah.
-Simpan Tenda, Sleeping Bag, Emergency Lamp, Lilin, Korek, dan Senter
Tenda diperlukan saat sebagian besar bangunan runtuh. Demikian juga senter dan emergency lamp atau lampu darurat, dan lilin sebagai alternative penerangan. Sleeping bag digunakan sebagai alas tidur.
-Kenali Lingkungan Rumah dan Kantor
Dengan mengenali lingkungan rumah dan kantor secara baik, kita akan lebih mudah ke mana kita akan keluar menyelamatkan diri dan mencari pertolongan.
-Kenali Lokasi Pintu, Lift, dan Pintu Darurat dengan Baik.
Kita tidak perlu mencari-cari lokasi pintu darurat, lift, jika sudah tahu secara baik lokasinya. Selain itu, saat gempa terjadi orang mudah panik. Sehingga proses keluar dari bangunan akan lebih lama.
-Simpan Dokumen Penting di Tempat Aman
Ijasah, sertifikat, dan surat berharga lain sebisa mungkin ditaruh di satu tempat yang mudah dibawa jika terjadi bencana.
Mencermati Sinyal Alam
Alam sejatinya memberikan sinyal kepada penghuni bumi. Tanda-tanda yang diberikan jika akan terjadi gempa bumi antara lain adanya awan di langit yang memanjang seperti angin tornado atau pohon atau batang dengan posisi berdiri. Selain itu juga adanya medan elektromagnetik seperti lampu menyala redup padahal sedang dimatikan, suara televise tidak jelas, atau tulisan di fax yang kita terima terlihat berantakan. Sinyal alam yang lain adalah banyak hewan yang lari atau menghilang. Sebagian mereka juga mengeluarkan suara.
Tindakan yang Dilakukan Saat Gempa
Nah, apa saja tindakan yang harus dilakukan saat gempa mengguncang. Hal ini sangat tergantung pada posisi di mana kita berada ketika gempa melanda.
-Di Mobil
Kurangi kecepatan, menepi ke bahu jalan. Turun, keluar dari mobil, mencari tanah lapang untuk mengantisipasi dari kemungkinan kebakaran mobil dan tertimpa bangunan. Jangan berada di dekat pom bensin, atau di bawah jembatan penyeberangan.
-Di Pantai
Lari menjauhi pantai sebisa mungkin. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi jika terjadi tsunami.
-Di Pegunungan
Hindari daerah yang kemungkinan terjadi longsong seperti di bawah lereng dll.
-Di Kantor
Keluar bangunan dengan tenang dan tertib melalui tangga darurat. Kepanikan hanya akan membuat tangga penuh dan proses keluar akan terhambat. Jangan gunakan lift atau tangga berjalan untuk menghindari listrik mati saat berada di dalam lift. Jika tidak memungkinkan keluar, bersembunyi di bawah meja untuk melindungi badan dari benda-benda tajam seperti kaca dan tembok yang runtuh.
-Di Pertokoan
Jika suasana panic dan semua orang berebut keluar, sebisa mungkin lindungi kepala dengan tas atau keranjang. Jauhi barang yang bertumpuk dan mudah tergelincir.
-Di Lantai Basement
Jangan panik, berjalan tenang ke arah tembok dengan kepala menunduk dan ditutupi tas hingga mencapai pintu keluar.
-Di Rumah
Matikan kompor jika sedang memasak. Keluar rumah dengan merangkak dan mencari tanah lapang guna menghindari keruntuhan material bangunan. Merangkak diperlukan karena kalau berjalan biasa akan jatuh karena terjadi bangunan. Ini bisa dilakukan jika jarak kita dengan pintu kurang dari 12 meter. Namun, jika jarak kita dengan pintu lebih dari 12 meter, lebih aman sembunyi di bawah meja atau kolong kasur untuk menyelamatkan diri dari bangunan rumah yang roboh.
-Di Jalan
Jauhi bangunan tinggi, papan reklame, tiang listrik, pohon yang kemungkinan akan roboh karena gempa. Waspada juga pada kondisi jalan, apakah merekah atau tidak.
-Di Kereta Api
Tetap tenang, jangan panik sambil melindungi kepala dengan tas menuju pintu keluar. Jauhi tiang kereta. Ada kemungkinan kereta akan berhenti karena aliran listrik mati. Tetap tenang berjalan ke pintu keluar.
-Mencari Informasi
Kepanikan kerap membuat seseorang melakukan tindakan yang salah. Untuk itu dipelrukan informasi yang memberikan panduan langkah penyelamatan.
-Berdoa
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan upaya dan bentuk kepasrahan manusia dalam mendapatkan keselataman dari Sang pemilik alam.
Susan Sutardjo
Muthia, salah seorang keponakanku yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar swasta sepulang sekolah bertanya soal gempa kepadaku. “Tante, kenapa kalau terjadi gempa bumi kita mesti sembunyi di kolong meja ya?” “Agar tubuh kita terlindung dari reruntuhan, sayang,” jawabku. Muthia mengangguk. Ia kemudian cerita tanggap gempa yang diajarkan gurunya di sekolah.
Materi tentang gempa dan hal-hal yang harus dilakukan sebagai upaya penyelamatan ketika bencana itu terjadi memang mutlak diajarkan di sekolah. Tidak hanya di sekolah, sebagian perkantoran di Jakarta saat ini juga kerap mengadakan simulasi penyelamatan kala gempa melanda. Sirine akan dibunyikan dan karyawan keluar gedung melalui tangga darurat jika berada di lantai bertingkat.
Sosialisasi tindakan tanggap gempa seharusnya juga gencar dilakukan kepada masyarakat. Entah itu melalui forum PKK, arisan, pengajian, ataupun media televisi. Pemerintah melalui perangkatnya hingga tingkat kelurahan dan RT bisa membuat program sadar gempa.
Mengapa melek gempa urgen bagi kita? Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan gempa. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia menyebabkan Indonesia salah satu lahan subur gempa. Mengapa demikian? Karena aktivitas tektonik akan aktif terus. Selain itu, rapuhnya batas kontinen juga ikut menyumbang terjadinya gempa. Wajar jika gempa menjadi bencana rutin yang memporak porandakan sebagian daerah di Indonesia.
Desember 2004 gempa dahsyat hampir 9 skala richter mengguncang sebagian Sumatera dengan tsunami mengiringinya. Kerusakan paling parah terjadi di Aceh dengan korban jiwa mencapai 283.106 orang. Disusul gempa di Nias, Kutacane, Aceh Tenggara, dan Bahorok Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Padang Sumatera Barat pada September tahun lalu.
Seringnya gempa menggoyang Sumatera disebabkan gerak patahan di sepanjang pulau dan pergeseran bertemunya lempeng Indo-Asia dan Eurasia. Gempa akan terus mengancam hingga gerakan patahan mencapai titik stabil.
Malangnya, tidak hanya Pulau Sumatera yang rawan gempa. Gempa pernah meratakan sebagian rumah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta, Tasikmalaya, dll. Menurut Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) sebagian besar wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan Papua rawan gempa. Penyebabnya tak lain adalah gerakan ketiga lempeng sekitar 3 hingga 4 cm tiap tahun.
Tindakan Saat Gempa
Dengan kondisi geografis rawan gempa maka setiap warga yang bermukim di daerah rawan gempa harus aware. Artinya, tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan baik tindakan preventif sebelum gempa dan saat gempa mengguncang daerahnya. Karena yang berbahaya dari bencana gempa adalah material rumah dan benda tajam lain yang rubuh akibat aktivitas gempa.
Sebelum Gempa: Tindakan Preventif
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan warga dan pemerintah sebagai upaya preventif pencegahan korban jiwa.
-Bangunan Tahan Gempa
Masyarakat seyogyanya mendesain rumahnya tahan gempa. Demikian juga pemerintah, harus mendesain gedung perkantoran pemerintah dan mewajibkan perkantoran swasta dan pertokoan bandel jika diguncang gempang. Kalau pun desain rumah atau kantor tidak tahan gempa, sebisa mungkin material rumah tidak berbahaya. Misalnya tidak menggunakan genting beton yang beratnya lumayan untuk atap rumah atau perkantoran. Sebaiknya menggunakan material ringan sebagai atap rumah, perkantoran, dan pertokoan.
-Siapkan Sembako di Bawah Tanah
Saat gempa mengguncang, keberadaan sembako menjadi langka. Kita tidak bisa menggantungkan pada bantuan yang datang. Sebaiknya menyimpan sembako seperti mie instan, beras, dan biskuit di bunker atau bawah tanah dan diganti secara berkala. Mengapa di bawah tanah? Karena kalau disimpan seperti biasa kemungkinan besar sembako tertimbun karena tertimpa material bangunan.
-Simpan Air Mineral Galon
Komponen penting yang paling dibutuhkan saat gempa adalah ketersediaan air bersih. Karena biasanya jaringan listrik mati, bangunan runtuh, dan aktivitas transportasi kota lumpuh, maka air bersih menjadi langka. Simpan beberapa air mineral gallon di bawah tanah.
-Simpan Tenda, Sleeping Bag, Emergency Lamp, Lilin, Korek, dan Senter
Tenda diperlukan saat sebagian besar bangunan runtuh. Demikian juga senter dan emergency lamp atau lampu darurat, dan lilin sebagai alternative penerangan. Sleeping bag digunakan sebagai alas tidur.
-Kenali Lingkungan Rumah dan Kantor
Dengan mengenali lingkungan rumah dan kantor secara baik, kita akan lebih mudah ke mana kita akan keluar menyelamatkan diri dan mencari pertolongan.
-Kenali Lokasi Pintu, Lift, dan Pintu Darurat dengan Baik.
Kita tidak perlu mencari-cari lokasi pintu darurat, lift, jika sudah tahu secara baik lokasinya. Selain itu, saat gempa terjadi orang mudah panik. Sehingga proses keluar dari bangunan akan lebih lama.
-Simpan Dokumen Penting di Tempat Aman
Ijasah, sertifikat, dan surat berharga lain sebisa mungkin ditaruh di satu tempat yang mudah dibawa jika terjadi bencana.
Mencermati Sinyal Alam
Alam sejatinya memberikan sinyal kepada penghuni bumi. Tanda-tanda yang diberikan jika akan terjadi gempa bumi antara lain adanya awan di langit yang memanjang seperti angin tornado atau pohon atau batang dengan posisi berdiri. Selain itu juga adanya medan elektromagnetik seperti lampu menyala redup padahal sedang dimatikan, suara televise tidak jelas, atau tulisan di fax yang kita terima terlihat berantakan. Sinyal alam yang lain adalah banyak hewan yang lari atau menghilang. Sebagian mereka juga mengeluarkan suara.
Tindakan yang Dilakukan Saat Gempa
Nah, apa saja tindakan yang harus dilakukan saat gempa mengguncang. Hal ini sangat tergantung pada posisi di mana kita berada ketika gempa melanda.
-Di Mobil
Kurangi kecepatan, menepi ke bahu jalan. Turun, keluar dari mobil, mencari tanah lapang untuk mengantisipasi dari kemungkinan kebakaran mobil dan tertimpa bangunan. Jangan berada di dekat pom bensin, atau di bawah jembatan penyeberangan.
-Di Pantai
Lari menjauhi pantai sebisa mungkin. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi jika terjadi tsunami.
-Di Pegunungan
Hindari daerah yang kemungkinan terjadi longsong seperti di bawah lereng dll.
-Di Kantor
Keluar bangunan dengan tenang dan tertib melalui tangga darurat. Kepanikan hanya akan membuat tangga penuh dan proses keluar akan terhambat. Jangan gunakan lift atau tangga berjalan untuk menghindari listrik mati saat berada di dalam lift. Jika tidak memungkinkan keluar, bersembunyi di bawah meja untuk melindungi badan dari benda-benda tajam seperti kaca dan tembok yang runtuh.
-Di Pertokoan
Jika suasana panic dan semua orang berebut keluar, sebisa mungkin lindungi kepala dengan tas atau keranjang. Jauhi barang yang bertumpuk dan mudah tergelincir.
-Di Lantai Basement
Jangan panik, berjalan tenang ke arah tembok dengan kepala menunduk dan ditutupi tas hingga mencapai pintu keluar.
-Di Rumah
Matikan kompor jika sedang memasak. Keluar rumah dengan merangkak dan mencari tanah lapang guna menghindari keruntuhan material bangunan. Merangkak diperlukan karena kalau berjalan biasa akan jatuh karena terjadi bangunan. Ini bisa dilakukan jika jarak kita dengan pintu kurang dari 12 meter. Namun, jika jarak kita dengan pintu lebih dari 12 meter, lebih aman sembunyi di bawah meja atau kolong kasur untuk menyelamatkan diri dari bangunan rumah yang roboh.
-Di Jalan
Jauhi bangunan tinggi, papan reklame, tiang listrik, pohon yang kemungkinan akan roboh karena gempa. Waspada juga pada kondisi jalan, apakah merekah atau tidak.
-Di Kereta Api
Tetap tenang, jangan panik sambil melindungi kepala dengan tas menuju pintu keluar. Jauhi tiang kereta. Ada kemungkinan kereta akan berhenti karena aliran listrik mati. Tetap tenang berjalan ke pintu keluar.
-Mencari Informasi
Kepanikan kerap membuat seseorang melakukan tindakan yang salah. Untuk itu dipelrukan informasi yang memberikan panduan langkah penyelamatan.
-Berdoa
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan upaya dan bentuk kepasrahan manusia dalam mendapatkan keselataman dari Sang pemilik alam.
Susan Sutardjo
Rabu, 24 Maret 2010
Disangka Lumpuh Tapi Tangguh
Laki-laki kurus itu terus duduk melaju di atas papan seluncur. Kakinya yang cacat terkulai lemah di depan.Tangannya menjadi tumpuan papan. Dua buah kayu dipakai sebagai sandaran. Di atasnya tertancap bendera merah putih lusuh berdebu. Sementara tas punggung memeluk erat.
Sosoknya menyeruak di antara mobil dan motor yang beradu cepat menuju tujuan di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Tak pelak, hidungnya harus menghirup kepulan polusi yang berdesakan keluar dari knalpot roda dua, tiga, dan empat. Kupingnya dipaksa kebal terhadap raungan kendaraan. Belum lagi suara bajaj yang bukan main riuhnya.
Kulitnya legam terpanggang sinar. Beruntunglah masih ada topi yang setia menemani. Minimal bisa bersembunyi dari kilau mentari. Atau menyembunyikan wajah kala kamera menyapa. "Tujuan saya masih jauh," ujarnya menjawab pertanyaanku sambil berlalu. Laki-laki cacat itu melaju. Kaki cacatnya tidak menjadi penghalang baginya untuk menjelajah bumi Illahi. Ia ternyata seorang pengelana. Yah, mirip-mirip sebuah iklan lah. "DISANGKA LUMPUH. PADAHAL TANGGUH." OK dech Man...Selamat mengembara...Merdeka!!!!
Sosoknya menyeruak di antara mobil dan motor yang beradu cepat menuju tujuan di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Tak pelak, hidungnya harus menghirup kepulan polusi yang berdesakan keluar dari knalpot roda dua, tiga, dan empat. Kupingnya dipaksa kebal terhadap raungan kendaraan. Belum lagi suara bajaj yang bukan main riuhnya.
Kulitnya legam terpanggang sinar. Beruntunglah masih ada topi yang setia menemani. Minimal bisa bersembunyi dari kilau mentari. Atau menyembunyikan wajah kala kamera menyapa. "Tujuan saya masih jauh," ujarnya menjawab pertanyaanku sambil berlalu. Laki-laki cacat itu melaju. Kaki cacatnya tidak menjadi penghalang baginya untuk menjelajah bumi Illahi. Ia ternyata seorang pengelana. Yah, mirip-mirip sebuah iklan lah. "DISANGKA LUMPUH. PADAHAL TANGGUH." OK dech Man...Selamat mengembara...Merdeka!!!!
Jumat, 26 Februari 2010
Salon, Fashion Show, Muludan
Melihat peringatan maulid nabi di beberapa stasiun TV, ingatanku langung meluncur ke masa lalu saat duduk di bangku SD hingga SMA di kampung gersang di balik perbukitan. Petang itu aku sibuk mendandani puluhan anak perempuan. Mereka membawa sarung dan kerudung. Satu persatu teman sebayaku ini aku make over. Satu beres, ganti yang lain. Acapkali mataku menatap jam dinding kayu yang dipajang di gebyok (dinding kayu). Saat SD aku tinggal di rumah gebyok milik mbah. “Waduh, wis jam pitu (sudah jam 7 malam),” kataku dalam hati. Aku pun kian tangkas mendandani teman-temanku.
Sekitar 15 menit kemudian urusan wardrobe beres. Rasa puas langsung menyebar berpendar. Rasanya aku seperti fashion stylist. Bergegas, aku dan pasukanku, gadis kecil berusia 10-13 tahun berjalan beriringan ke masjid jami’ kampung, 400 meter dari rumah mbah. Yah, mirip-mirip fashion show lah. Langkah kami beraturan. Mencoba tampil anggun bak di panggung. Kadang terdengar suitan anak laki-laki yang melihat rombonganku melintas. Sesama anak-anak dilarang suit-suitan…:p Setiba di halaman masjid, kami langsung menempati posisi strategis, menerima tamu.
Malam ini adalah muludan (peringatan maulid nabi). Muludan disambut suka cita, baik anak-anak maupun orang tua. Bagi kami, anak-anak, beberapa hari sebelum muludan pun kami sudah membicarakannya. Bahkan, tak sabar menunggu muludan tiba.
Saat muludan, masjid di kampungku yang biasanya pelit cahaya, tiba-tiba menjadi terang benderang. Lampu neon 20 watt dari tenaga diesel dipajang berderet. Suasana lebih meriah dengan alunan suara Muthoharoh, penyanyi Qasidah Nasida Ria, dari beberapa speaker kotak berukuran segede gaban ditumpuk menjangkung, diletakkan di pojok depan, mirip penerima tamu….(nasib-nasib….masak kami punya kembaran speaker….)
Entah kenapa, tiap melihat speaker hatiku senang. Pasalnya, speaker, di kampungku kami menyebutnya salon (bukan salon meni pedi ya…), identik dengan keramaian. Maka, wajar jika anak kecil seperti aku bungah tiap ada suara salon. Tetangga ngawinin anak, menyewa salon. Punya hajat nyunatin anak, pasang salon juga. Paling kalau mau agak wah ditambah TV Video. Itu sudah jempol.
Pokoknya, kalau mau ramai harus pakai salon atau sound system. Salon ini lebih modern ketimbang pengeras suara masjid. Sebelumnya, warga kampung memasang speaker sejenis pengeras masjid (kami menyebutnya speker, mungkin maksudnya spiker kali ye…) di atas batang bambu tiap ewoh (punya gawe). Era speker di kampungku berakhir menjelang 90-an. Sama seperti salon, anak-anak akan riang begitu mendengar speker mengalun. Lagunya pun, tak jauh dari Nasida Ria. Kalaupun belok, paling ke dendang Bang Haji Rhoma. Nggak ada yang lain. Jangan berharap lagu mellow-nya Betharia Sonata. Perdamaian perdamaian…Desamu Desaku…Desa yang indah permai…. Bak nyetrum, kepalaku langsung manggut-manggut begitu mendengar lagu kasidah itu…:p
Pergantian speker menjadi salon dimulai begitu ada tetangga kami, namanya Lek Jamiri menyewakan seperangkat kotak pengeras suara berwarna hitam itu. Orangnya pendek, wajahnya pas-pasan. Tapi senyumnya selalu pecah, memamerkan giginya yang seolah menjadi daya tariknya. Sekarang pria murah senyum itu sudah almarhum. Tiap ada tetangga punya gawe, dengan senang hati Lek Jamiri mendorong salon dengan gerobak. Kadang, kalau Lek Jamiri sedang bertugas di tetangga, aku mendekatinya. Dengan muka memelas, aku request lagu. “Lek, mbok sesekali diputar lagu pop,” rajukku. “Walah, ra ono nduk (nggak ada nduk),” jawabnya. Akhirnya aku pasrah begitu ia menyetel lagu Evie Tamala.
Pertama kali melihat kotak hitam bersuara ngebas deng deng deng itu, kami anak-anak kecil langsung lompat-lompat. Persis seperti saat kami mendapat uang recehan dari orang Cina yang datang ke makam. Maklum, di desa kami banyak kuburan Cina. Tiap kaum Tionghoa datang berziarah, aku dan teman-teman kecilku membuntuti mereka. Pasalnya, biasanya mereka membawa uang recehan yang akan dibagikan ke anak-anak. Kami pun mengikuti kalangan kulit putih ini sampai di bong (sebutan kuburan Cina di kampungku). Begitu tahu recehan sudah ada di tangan, kami tak langsung bubar, tapi menunggui mereka sampai pulang.
Nah, malam ini salon Lek Jamari siap mensukseskan muludan. Maidoh dari Pak Kyai pun bisa dinikmati seluruh warga kampung dan tamu dari desa sebelah. Saat melintas di depan deretan speaker hitam ini, siap-siap saja dada akan berdebar-debar. Bukan seperti orang yang lagi jatuh cinta, tapi lebih mirip kejatuhan beribu ton batu. Rasanya der der der der.
Laiknya anak menginjak remaja pada umumnya, aku dan teman-temanku sesekali lirik sana sini sambil mempersilakan tamu yang datang. Siapa tahu ada yang lumayan. Ehem ehem…..Muludan menjadi momen yang kami tunggu. Karena di sinilah kami remaja putri bisa show off. Bahkan, ada temanku yang dekat dan nikah gara-gara candaan waktu muludan. Saat teman-temanku cekikikan, aku biasanya hanya mesem. Jaim ceritanya. Herannya, seleraku sangat berbeda dengan teman-teman ABGku ini. Entahlah, di mataku tak ada yang menarik. Padahal, wajahku biasa-biasa saja. Tapi punya kriteria cowok idaman di atas rata-rata haha. Ini namanya tak tahu diri. Atau tepatnya tak pernah berkaca. Kalaupun ngaca, wajahku nggak begitu jelas sih karena cerminnya buram….:p
Sekitar pukul 20.00 wib acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan sambutan panitia. Dilanjutkan dengan uraian dari kepala dusun, lurah, dan camat. Untunglah ketua RT dan RW tidak ikut-ikutan nimbrung memberi sambutan. Walahhh rentetan sambutan sepertinya lebih panjang daripada ceramah mbah kyai. Bagiku, suara mereka seperti angin. Tak kudengar, hanya lewat sesaat. Lelah mendengarkan pidato dari pemuka desa, acara kemudian diselingi break. Hore...ini adalah waktuku dan teman-temanku. Saatnya kami unjuk kebolehan. Di sini kami tidak menyanyi kasidah, berpuisi, atau menjadi saritilawah. Bukan. Kami bergerak lincah di antara pengunjung muludan, sementara tangan kami sigap membagi bentel (nasi dibungkus daun pisang dengan lauk seadanya) yang ditaruh dalam rantangan bambu. Saat inilah kami seperti bintang yang bersinar. Mata pengunjung tak lepas mengarah ke kami. Bukan terpana pada paras kami, tapi mata mereka kelaparan melihat bentel yang kami tenteng.
Acara bagi-bagi bentel yang berlangsung 20 menit, biasanya heboh. Acapkali kami harus sedikit tarik urat kalau ada ibu-ibu yang minta jatah lebih dari satu. Kejadian ini sering terjadi. Akibatnya, tidak semua pengunjung kebagian bentel. Usai membagi bungkusan nasi, kami kembali ke posko makanan. Biasanya di sana berkumpul remaja putra dan putri. Sesekali guyonan terdengar. Saat seperti inilah aku memilih menyelinap kabur keluar. “Mendingan mendengarkan maidoh dari mbah kyai,” kataku dalam hati.
Aku kembali ke tempat jamaah perempuan yang duduk lesehan di plastik terpal. Sembari selonjor, aku menyimak uraian dari mbah kyai. Sesekali kami sholawatan. Sejam kemudian, sekitar jam 22.00 wib acara usai. Kami pun berduyun-duyun keluar dari kompleks masjid menuju rumah masing-masing. Saat berjalan pulang, aku menantikan muludan tahun depan. Membayangkan akan memakai baju kurung, sarung dan kerudung warna apa. Juga baju yang akan dikenakan pasukanku. Ah, peringatan maulud nabi yang seharusnya untuk mengingat sejarah Rasulullah SAW, dalam otakku telah berganti menjadi ajang fashion show. Duh, ampuni aku kanjeng nabi. Sungguh, bukan maksud hati untuk melupakanmu. Tapi bagaimana lagi, di kampungku jarang ada pesta. Satu-satunya keramaian yang ada ya pas maulid nabi…Speaker masjid masih mengalun…Sholatullah Salamullah Ala thoha Rosulillah….
Sekitar 15 menit kemudian urusan wardrobe beres. Rasa puas langsung menyebar berpendar. Rasanya aku seperti fashion stylist. Bergegas, aku dan pasukanku, gadis kecil berusia 10-13 tahun berjalan beriringan ke masjid jami’ kampung, 400 meter dari rumah mbah. Yah, mirip-mirip fashion show lah. Langkah kami beraturan. Mencoba tampil anggun bak di panggung. Kadang terdengar suitan anak laki-laki yang melihat rombonganku melintas. Sesama anak-anak dilarang suit-suitan…:p Setiba di halaman masjid, kami langsung menempati posisi strategis, menerima tamu.
Malam ini adalah muludan (peringatan maulid nabi). Muludan disambut suka cita, baik anak-anak maupun orang tua. Bagi kami, anak-anak, beberapa hari sebelum muludan pun kami sudah membicarakannya. Bahkan, tak sabar menunggu muludan tiba.
Saat muludan, masjid di kampungku yang biasanya pelit cahaya, tiba-tiba menjadi terang benderang. Lampu neon 20 watt dari tenaga diesel dipajang berderet. Suasana lebih meriah dengan alunan suara Muthoharoh, penyanyi Qasidah Nasida Ria, dari beberapa speaker kotak berukuran segede gaban ditumpuk menjangkung, diletakkan di pojok depan, mirip penerima tamu….(nasib-nasib….masak kami punya kembaran speaker….)
Entah kenapa, tiap melihat speaker hatiku senang. Pasalnya, speaker, di kampungku kami menyebutnya salon (bukan salon meni pedi ya…), identik dengan keramaian. Maka, wajar jika anak kecil seperti aku bungah tiap ada suara salon. Tetangga ngawinin anak, menyewa salon. Punya hajat nyunatin anak, pasang salon juga. Paling kalau mau agak wah ditambah TV Video. Itu sudah jempol.
Pokoknya, kalau mau ramai harus pakai salon atau sound system. Salon ini lebih modern ketimbang pengeras suara masjid. Sebelumnya, warga kampung memasang speaker sejenis pengeras masjid (kami menyebutnya speker, mungkin maksudnya spiker kali ye…) di atas batang bambu tiap ewoh (punya gawe). Era speker di kampungku berakhir menjelang 90-an. Sama seperti salon, anak-anak akan riang begitu mendengar speker mengalun. Lagunya pun, tak jauh dari Nasida Ria. Kalaupun belok, paling ke dendang Bang Haji Rhoma. Nggak ada yang lain. Jangan berharap lagu mellow-nya Betharia Sonata. Perdamaian perdamaian…Desamu Desaku…Desa yang indah permai…. Bak nyetrum, kepalaku langsung manggut-manggut begitu mendengar lagu kasidah itu…:p
Pergantian speker menjadi salon dimulai begitu ada tetangga kami, namanya Lek Jamiri menyewakan seperangkat kotak pengeras suara berwarna hitam itu. Orangnya pendek, wajahnya pas-pasan. Tapi senyumnya selalu pecah, memamerkan giginya yang seolah menjadi daya tariknya. Sekarang pria murah senyum itu sudah almarhum. Tiap ada tetangga punya gawe, dengan senang hati Lek Jamiri mendorong salon dengan gerobak. Kadang, kalau Lek Jamiri sedang bertugas di tetangga, aku mendekatinya. Dengan muka memelas, aku request lagu. “Lek, mbok sesekali diputar lagu pop,” rajukku. “Walah, ra ono nduk (nggak ada nduk),” jawabnya. Akhirnya aku pasrah begitu ia menyetel lagu Evie Tamala.
Pertama kali melihat kotak hitam bersuara ngebas deng deng deng itu, kami anak-anak kecil langsung lompat-lompat. Persis seperti saat kami mendapat uang recehan dari orang Cina yang datang ke makam. Maklum, di desa kami banyak kuburan Cina. Tiap kaum Tionghoa datang berziarah, aku dan teman-teman kecilku membuntuti mereka. Pasalnya, biasanya mereka membawa uang recehan yang akan dibagikan ke anak-anak. Kami pun mengikuti kalangan kulit putih ini sampai di bong (sebutan kuburan Cina di kampungku). Begitu tahu recehan sudah ada di tangan, kami tak langsung bubar, tapi menunggui mereka sampai pulang.
Nah, malam ini salon Lek Jamari siap mensukseskan muludan. Maidoh dari Pak Kyai pun bisa dinikmati seluruh warga kampung dan tamu dari desa sebelah. Saat melintas di depan deretan speaker hitam ini, siap-siap saja dada akan berdebar-debar. Bukan seperti orang yang lagi jatuh cinta, tapi lebih mirip kejatuhan beribu ton batu. Rasanya der der der der.
Laiknya anak menginjak remaja pada umumnya, aku dan teman-temanku sesekali lirik sana sini sambil mempersilakan tamu yang datang. Siapa tahu ada yang lumayan. Ehem ehem…..Muludan menjadi momen yang kami tunggu. Karena di sinilah kami remaja putri bisa show off. Bahkan, ada temanku yang dekat dan nikah gara-gara candaan waktu muludan. Saat teman-temanku cekikikan, aku biasanya hanya mesem. Jaim ceritanya. Herannya, seleraku sangat berbeda dengan teman-teman ABGku ini. Entahlah, di mataku tak ada yang menarik. Padahal, wajahku biasa-biasa saja. Tapi punya kriteria cowok idaman di atas rata-rata haha. Ini namanya tak tahu diri. Atau tepatnya tak pernah berkaca. Kalaupun ngaca, wajahku nggak begitu jelas sih karena cerminnya buram….:p
Sekitar pukul 20.00 wib acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan sambutan panitia. Dilanjutkan dengan uraian dari kepala dusun, lurah, dan camat. Untunglah ketua RT dan RW tidak ikut-ikutan nimbrung memberi sambutan. Walahhh rentetan sambutan sepertinya lebih panjang daripada ceramah mbah kyai. Bagiku, suara mereka seperti angin. Tak kudengar, hanya lewat sesaat. Lelah mendengarkan pidato dari pemuka desa, acara kemudian diselingi break. Hore...ini adalah waktuku dan teman-temanku. Saatnya kami unjuk kebolehan. Di sini kami tidak menyanyi kasidah, berpuisi, atau menjadi saritilawah. Bukan. Kami bergerak lincah di antara pengunjung muludan, sementara tangan kami sigap membagi bentel (nasi dibungkus daun pisang dengan lauk seadanya) yang ditaruh dalam rantangan bambu. Saat inilah kami seperti bintang yang bersinar. Mata pengunjung tak lepas mengarah ke kami. Bukan terpana pada paras kami, tapi mata mereka kelaparan melihat bentel yang kami tenteng.
Acara bagi-bagi bentel yang berlangsung 20 menit, biasanya heboh. Acapkali kami harus sedikit tarik urat kalau ada ibu-ibu yang minta jatah lebih dari satu. Kejadian ini sering terjadi. Akibatnya, tidak semua pengunjung kebagian bentel. Usai membagi bungkusan nasi, kami kembali ke posko makanan. Biasanya di sana berkumpul remaja putra dan putri. Sesekali guyonan terdengar. Saat seperti inilah aku memilih menyelinap kabur keluar. “Mendingan mendengarkan maidoh dari mbah kyai,” kataku dalam hati.
Aku kembali ke tempat jamaah perempuan yang duduk lesehan di plastik terpal. Sembari selonjor, aku menyimak uraian dari mbah kyai. Sesekali kami sholawatan. Sejam kemudian, sekitar jam 22.00 wib acara usai. Kami pun berduyun-duyun keluar dari kompleks masjid menuju rumah masing-masing. Saat berjalan pulang, aku menantikan muludan tahun depan. Membayangkan akan memakai baju kurung, sarung dan kerudung warna apa. Juga baju yang akan dikenakan pasukanku. Ah, peringatan maulud nabi yang seharusnya untuk mengingat sejarah Rasulullah SAW, dalam otakku telah berganti menjadi ajang fashion show. Duh, ampuni aku kanjeng nabi. Sungguh, bukan maksud hati untuk melupakanmu. Tapi bagaimana lagi, di kampungku jarang ada pesta. Satu-satunya keramaian yang ada ya pas maulid nabi…Speaker masjid masih mengalun…Sholatullah Salamullah Ala thoha Rosulillah….
Rabu, 24 Februari 2010
Semangat Mbah...Rosa!!!
"Nduk...pepaya..." Suara itu...aku surprise mendengarnya. Terlebih di tengah belantara ibukota. Tiba-tiba ingatanku berlari puluhan kilo ke kampung halaman di balik perbukitan. Seraut wajah langsung membayang. Ya,ibu yang biasa memanggilku nduk. Aku memalingkan wajahku ke arah laki-laki tua yang mendorong gerobak sayur. Rambutnya yang ditutupi topi caping memutih, tubuhnya kurus, dan gumpalan daging yang membalut tubuhnya ngelinting.
Senyumnya merekah. Memamerkan giginya yang ompong. "Ayo beli pepaya nduk," ujarnya. Aku kembali memastikan dia memanggilku nduk. "Ayo nduk, dipilih," katanya sumringah. "Pinten pake?" "Wis limang ewu wae nduk sing cilik. Yen sing gede pitung ewu." Kalo lokasinya dekat rumah, pasti aku beli yang besar. Tapi sekarang...Aku berada di Menteng. Membawanya butuh perjuangan. Kalau ingat kata perjuangan kok otakku langsung klik ke lagu bang haji ya..."Perjuangan..." hehehe Melihat aku senyum senyum sendiri, lelaki senja itu ikut terkekeh.
Eh, aku belum memutuskan pilihan. "Pake kulo tumbas ingkang alit mawon," jawabku mantap. "Ora iki wae nduk?" tanyanya. Aku tahu maksud pake. Kalau beli buah yang besar lebih untung, karena beda harganya tipis. Aku menggeleng senyum. "Pake, regane mboten saget kurang to?" tawarku. "Wis patang ewu wae." Kuulurkan uang sepuluh ribuan. "Iki susuke nduk," kata laki-laki berusia hampir 80 tahun asal Tegal itu. Entah kenapa, setelah menawar, tanganku malah enggan menerima kembalian. "Kangge pake mawon," kataku tersenyum. "Waduh nduk, maturnuwun nggih," ucapan terima kasih tulus meluncur dibarengi sebaris doa.
"Arep ning endi nduk?" tanyanya. "Bade wonten stasiun pake." "Ati-ati yo nduk," katanya mendorong gerobak yang isinya tinggal pepaya dua buah dan sekantong plastik jagung. "Pake daleme pundi?" kataku menjajari langkahnya. "Tanah Abang nduk," balasnya. Wowww...ternyata mbah Maridjan eh Mbah Ngarijan ini mendorong gerobak sayuran dari Tanah Abang hingga Menteng. Orang dulu memang kuat-kuat. Seakan membaca pikiranku, mbah Ngarijan pun menegaskan," Aku nggowo gerobak soko Tanah Abang, Nduk." Wah...si mbah ini otot kawat balung wesi. Kemana-mana kuat nggendong gerobak...hehehe Bener-benar pantas menjadi saudaranya Mbah Maridjan....Rosa...rosa rosa....Aku juga rosa lho mbah...kemana-mana bawa tas...:p
Ahaaa....semangat kehidupan itu kembali menyala...dari tubuh renta menjalar ke ragaku. Terima kasih Mbah...Terima kasih Tuhan Penjaga Hati Pemberi Inspirasi...:)
Senyumnya merekah. Memamerkan giginya yang ompong. "Ayo beli pepaya nduk," ujarnya. Aku kembali memastikan dia memanggilku nduk. "Ayo nduk, dipilih," katanya sumringah. "Pinten pake?" "Wis limang ewu wae nduk sing cilik. Yen sing gede pitung ewu." Kalo lokasinya dekat rumah, pasti aku beli yang besar. Tapi sekarang...Aku berada di Menteng. Membawanya butuh perjuangan. Kalau ingat kata perjuangan kok otakku langsung klik ke lagu bang haji ya..."Perjuangan..." hehehe Melihat aku senyum senyum sendiri, lelaki senja itu ikut terkekeh.
Eh, aku belum memutuskan pilihan. "Pake kulo tumbas ingkang alit mawon," jawabku mantap. "Ora iki wae nduk?" tanyanya. Aku tahu maksud pake. Kalau beli buah yang besar lebih untung, karena beda harganya tipis. Aku menggeleng senyum. "Pake, regane mboten saget kurang to?" tawarku. "Wis patang ewu wae." Kuulurkan uang sepuluh ribuan. "Iki susuke nduk," kata laki-laki berusia hampir 80 tahun asal Tegal itu. Entah kenapa, setelah menawar, tanganku malah enggan menerima kembalian. "Kangge pake mawon," kataku tersenyum. "Waduh nduk, maturnuwun nggih," ucapan terima kasih tulus meluncur dibarengi sebaris doa.
"Arep ning endi nduk?" tanyanya. "Bade wonten stasiun pake." "Ati-ati yo nduk," katanya mendorong gerobak yang isinya tinggal pepaya dua buah dan sekantong plastik jagung. "Pake daleme pundi?" kataku menjajari langkahnya. "Tanah Abang nduk," balasnya. Wowww...ternyata mbah Maridjan eh Mbah Ngarijan ini mendorong gerobak sayuran dari Tanah Abang hingga Menteng. Orang dulu memang kuat-kuat. Seakan membaca pikiranku, mbah Ngarijan pun menegaskan," Aku nggowo gerobak soko Tanah Abang, Nduk." Wah...si mbah ini otot kawat balung wesi. Kemana-mana kuat nggendong gerobak...hehehe Bener-benar pantas menjadi saudaranya Mbah Maridjan....Rosa...rosa rosa....Aku juga rosa lho mbah...kemana-mana bawa tas...:p
Ahaaa....semangat kehidupan itu kembali menyala...dari tubuh renta menjalar ke ragaku. Terima kasih Mbah...Terima kasih Tuhan Penjaga Hati Pemberi Inspirasi...:)
Selasa, 23 Februari 2010
Semangat
Mataku membuka dari tidur semalam
Dadaku seperti kejatuhan beribu beban
Beragam rasa sepertinya mengeram
Ingin segera aku muntahkan
"Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan," keluhku
Tubuhku diam memaku
Hatiku mendadak kelu
Pedih menjalar ke seluruh ragaku
Pagi, harusnya senyumku mengembang untukmu
Seperti sinar mentari yang memberi terang
Bukan diriku yang dirundung ratap mendung nan gelap
Duhai semangat
Di mana engkau bertahta
Mengapa tiba-tiba lenyap
Meninggalkan aku terkapar tak berdaya
Pasrah pada pengkerdilan tanpa berbuat apa-apa
Jakarta, 22 Februari 2010
Dadaku seperti kejatuhan beribu beban
Beragam rasa sepertinya mengeram
Ingin segera aku muntahkan
"Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan," keluhku
Tubuhku diam memaku
Hatiku mendadak kelu
Pedih menjalar ke seluruh ragaku
Pagi, harusnya senyumku mengembang untukmu
Seperti sinar mentari yang memberi terang
Bukan diriku yang dirundung ratap mendung nan gelap
Duhai semangat
Di mana engkau bertahta
Mengapa tiba-tiba lenyap
Meninggalkan aku terkapar tak berdaya
Pasrah pada pengkerdilan tanpa berbuat apa-apa
Jakarta, 22 Februari 2010
Senin, 31 Agustus 2009
Rumah Sehat Dhuafa, Bukti Cinta Pada Sesama
Melihat iklan Rumah Sehat Dhuafa, program rumah sakit gratis bagi kaum papa dari Dompet Dhuafa dan Tabung Wakaf Indonesia, aku langsung teringat dua hal. Pertama,memperoleh pengobatan yang layak adalah hak tiap orang, bukan hanya milik orang berpunya. Akupun langsung teringat kondisi temanku Yulia, yang kini terbaring lumpuh. Andaikan keluarganya memiliki cukup dana, kondisinya insyaAllah tidak separah itu. Kedua, mimpiku untuk memiliki sebuah balai pengobatan gratis bagi kaum kurang beruntung.
Sebenarnya, Dompet Dhuafa telah memiliki balai pengobatan gratis bernama Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang berlokasi di Jl. Ir. H Juanda, Ciputat, Tangerang. Namun, kapasitas dan areanya memang masih terbatas. Sungguhpun demikian, pelayanan rumah sakit ini profesional.Hal ini dirasakan sendiri oleh salah seorang temanku. Sebut saja namanya Winda. Sewaktu mau melahirkan anak pertamanya, Linda melahirkan di LKC. Alasan Linda melahirkan anak di situ, karena ia tidak memiliki uang cukup untuk melahirkan di bidan. Apalagi di rumah sakit. Terlebih lokasi kontrakannya tidak jauh dari rumah sakit itu.
"Suster dan dokternya ramah mbak, kita dimanusiakan, padahal tidak bayar, gratis," cerita Winda kala aku menjenguknya. Bahkan, suster dan dokternya dengan sabar membantu proses kelahiran Winda. "Padahal, kata dokter, aku sebenarnya susah melahirkan normal, karena tulang panggulku kecil," ujarnya. Alhamdulillah, akhirnya temanku itu bisa melahirkan bayi laki-laki secara normal.
Karena balai pengobatan tsb diperuntukkan bagi kalangan kurang mampu, wajar jika para pasien diminta kartu keterangan kurang mampu kala berobat di LKC, termasuk temanku itu. "Untuk berobat di LKC aku harus membawa surat bukti keterangan kurang mampu," jelasnya. Winda pun sangat berterima kasih pada LKC, juga suster dan perawatnya.
Testimoni dari temanku Linda, menambah keyakinanku pada profesionalitas manajemen rumah sehat dhuafa yang kini tengah dibangun di daerah Jampang, Kemang, Parung, Bogor, Jawa Barat. Yang kian menguatkan keyakinanku, aku dulu juga pernah merasakan jasa Dompet Dhuafa dalam perjalananku menuntut ilu. Tiap bulan aku menerima beasiswa prestasi dengan nominal Rp 250 ribu.Dengan uang beasiswa itu, ibuku yang seorang janda di kampung tanpa pensiunan, tidak terbebani oleh anaknya yang tengah kuliah di ibukota.Selain mendapat uang, aku juga memperoleh tambahan skill dengan adanya training yang kerap diadakan Dompet Dhuafa Republika.
Sehingga, ketika aku melihat Iklan Wakaf Tunai Terpadu untuk rumah sehat dhuafa, aku pun tertarik ambil bagian di dalamnya, meski dengan nominal yang tak seberapa. Terlebih, saat ini aku belum mampu mewujudkan mimpiku. Usai mentransfer uang wakaf, kita akan diberi ID card dari Dompet Dhuafa. Selain itu, kita juga akan mendapat sertifikat wakaf tunai. Alhamdulillah, aku masih bisa berpartisipasi, meski nilainya masih mini.
Bagi bapak, ibu, sahabat semua yang ingin berinvestasi dengan bagi hasil dari Sang Pemilik Alam Semesta, silakan menelpon ke kantor DD Republika (021)7416050, atau kunjungi situs Dompet Dhuafa Republika. Sahabat juga bisa mengirim wakaf tunai dengan mentransfer ke BMI Cabang Pondok Indah Norek 303.0017315, atau BCA Cab. Pondok Indah Norek. 237.304.5454 a.n Dompet Dhuafa Republika.
Rabu, 26 Agustus 2009
Terima Kasih atas Doa dan Support untuk Yulia
"Teman-temanmu baik banget San, padahal mereka belum kenal aku. Tolong sampaikan makasih ke mereka ya," demikian bunyi pesan pendek Yulia diHPku, begitu kukasih tahu banyak teman-teman FB yang mendoakan kesembuhannya setelah kisahnya ku-share di Facebook.
Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman budiman yang telah memberikan doa kesembuhan dan sudi membaca kisah teman kuliahku yang sedang terbaring lemah tak berdaya, Yulia. Perempuan yang tengah berjuang melawan penyakitnya itu sangat terharu atas kepedulian teman-teman semua. Untaian doa dan perhatian teman-teman menjadi penyejuk hati dan support untuknya.
Yulia pun kian terharu, kala kukasih tahu ada teman FB yang membantunya."Subhanallah, temanmu baik banget mau peduli aku. Padahal belum kenal aku. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepada temanmu itu ya San. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian dunia dan akhirat," ujarnya.
Teman-teman, sebuah perhatian untuk saudara kita, betapapun sangat kecil bentuknya, sangat bermakna. Doa teman-teman semua sangat dinantikan oleh teman saya Yulia yang saat ini lumpuh tak berdaya melawan ganasnya kanker yang dideritanya. Sekali lagi terima kasih atas perhatian teman-teman semua.
Support Untuk Yulia
Tubuh yang tergolek lemah di kasur kapuk lusuh dan usang itu nyaris tinggal kulit dan tulang. Kakinya yang mengecil, berminyak dan kehitaman. ”Itu minyak, obat dari Pak Ustadz San,” ujarnya tersenyum. ”Rabbi....,” sebutku dalam hati, aku shock, kala melihat batok kepalanya mengecil, matanya cekung dan bentuk mukanya sangat menyedihkan. Bahkan, aku tidak mengenalinya lagi. Tuhan, sedemikian parahnya kondisi temanku ini.
Gadis malang yang kini tengah lumpuh tak berdaya itu bernama Yulia, teman kuliahku di Sastra UI. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Karena, sebelum aku menjenguknya, aku sering ngobrol dengannya by phone. Ia selalu ceria. Bahkan, ia tak pernah menyinggung soal penyakitnya jika tidak aku minta. Yulia lebih banyak cerita soal hal yang menyenangkan sebelum ia jatuh sakit. Aku pun mengira kondisinya tidak menyedihkan seperti ini. Hatiku teriris.
Aku kemudian keluar kamar sederhana itu untuk bersalaman dengan ibunya Yulia. ”Rabbi...,” hatiku kembali trenyuh. Ibunya Yulia ternyata tidak bisa melihat. Sebelum bertandang ke rumahnya, Yulia pernah cerita jika ibunya buta. Ibunya tidak bisa melihat lagi ketika Yulia masih kuliah. Sementara bapaknya sudah sepuh dan tidak bekerja lagi. ”Dulu Bapak sopir San,” ceritanya. Saat ini, untuk membiayai kebutuhan sehar-hari, keluarganya dibantu salah satu kakaknya. ”Alhamdulillah, ada satu kakakku yang bisa membantu,” ujarnya kepadaku suatu ketika.
Rasa iba dan sedih, sekejap berganti dengan salut setelah melihat keikhlasan hati perempuan sepuh berjilbab hitam itu. Bu Sairah, namanya. ”Beginilah kondisi kami nak Susan. Alhamdulillah. Ayo duduk, duduk. Terima kasih sudah datang menjenguk Yulia. Mau minum apa,” ujarnya hangat ke aku dan Epi, temanku. ”Ibu, tidak usah repot ya,” ujarku hampir berbarengan dengan Epi.
Kami pun kembali ke kamar Yulia. ”Gimana kondisimu Yul,” tanyaku. ”Alhamdulillah...baikan. Untung kalian datang ke sini tubuhku dah bersihan,” ujarnya tersenyum. ”Loh memangnya kenapa?” tanyaku. ”Nih habis ambrol,” jelasnya. ”Maksudnya?” tanyaku lagi. ”Ya, tiap berapa hari, keluar nanah dan darah dari pori-pori kulitku. Kalau melihatnya pasti jijik. Alhamdulillah, kalian datang pas aku bersihan,” jelasnya.
Sesaat kemudian, ayahnya Yulia masuk kamar mengantarkan minuman dan kacang goreng. ”Ayo diminum dan makan kacangnya mbak,” ujarnya. ”Makasih Pak,” jawab kami serentak kayak pasukan militer....:p ”Subhanallah, kala dalam kesempitan dan kesusahan, mereka masih mau berbagi dan menjamu tamu,” kataku dalam hati. Tak berapa lama, gantian ibunya Yulia, minta kipas angin dinyalakan saja. ”Kayaknya panas, kipasnya tolong dinyalakan saja dik,” pintanya sambil menggendong keponakan Yulia. ”Ga kok bu, makasih,” balasku dan Epi.
Kami pun kembali ngobrol. Yulia tetap semangat. Tidak tersirat kekesalan dan keputusasaan di wajah Yulia atas ujian berat yang menderanya. Karena tak ingin membuatnya sedih, aku pun tak banyak nanya soal penyakitnya. Justru ia mengajak kami bercanda dan ngobrol soal teman-teman kuliah dulu. Acapkali tawa Yulia lepas. Sesekali ia juga melucu. ”San, kalau kisahku dibikin buku, bisa-bisa terus bersambung deh, ga ada habisnya. Kalau difilmkan, juga akan berseri-seri,” ujarnya tertawa. Kami pun tertawa mendengarnya.
Suatu siang di tahun 2004, saat Yulia baru enam bulan bekerja di perusahaan swasta, badannya panas dan menggigil gemetaran. ”Aku kira cuma ga enak badan San,” ujarnya. Namun, saat berada di angkot dalam perjalanan pulang kantor, ia mendapati ada yang aneh dengan jari kakinya. ”Ki, kenapa jari-jari kakiku membengkak?” katanya kepada Kiki, teman kuliah yang kebetulan sekantor dengannya. Mereka pun bingung dan khawatir. Sesampai di rumah, Yulia mengobati jari kakinya seadanya.
”Besoknya San, tiap kena sinar matahari, jari kaki dan tanganku membengkak dan merah,” ujar Yulia. Sejak itu, kondisi Yulia kian memburuk. Hingga suatu siang, dari jari kakinya keluar nanah. ”Jari kakiku yang bengkak-bengkak pada pecah mengeluarkan nanah,” ceritanya.
Keluarga memutuskan Yulia dirawat di sebuah RS pemerintah di Jakarta Selatan. Namun, bukan membaik, tapi penyakitnya tambah parah. “Kakiku dioperasi San. Tapi, bukan tambah baik, malah semakin parah. Bengkaknya semakin besar,” ujar Yulia. Oleh dokter RS tersebut, Yulia divonis menderita penyakit lupus. “Memangnya ada tanda kayak kupu-kupu di wajahmu Yul?” tanyaku. “Ga, tapi kalau kena sinar matahari kulitku langsung merah, membengkak,” jelasnya.
Melihat kondisi Yulia yang makin parah, pihak RS itu angkat tangan. Mereka merekomendasikan Yulia dirawat di salah satu RS swasta yang terbilang bagus. Yulia kemudian diboyong di RS yang sering merawat para pejabat itu. ”Gimana Yul, setelah di rawat di sana?” tanyaku. ”Tidak ada perubahan San,” katanya. Anehnya, menurut diagnosa dokter di RS ini, Yulia mengidap kanker kulit. Entahlah yang benar yang mana. Yang jelas, Yulia lumpuh, tidak bisa berjalan. ”Aku tidak bisa jalan sejak tahun 2005 San,” ujarnya.
Keluarga sudah habis-habisan membiayai pengobatan Yulia. Terlebih, bapaknya sebagai tulang punggung keluarga sudah tidak bekerja lagi. Karena kondisi keuangan yang semakin sulit, akhirnya Yulia pasrah. “Kakakku membawaku ke pengobatan alternatif. Mulai herbal, ruqyah, hingga metode lain,” ujarnya.
Belakangan, Yulia dibawa ke seorang ustadz di daerah Petukangan Jakarta Selatan. ”Alhamdulillah mendingan San. Tapi, karena mau bulan puasa, ga praktek, libur,” ujarnya. Saat ini, Yulia juga menjalani pengobatan transfer energi. ”Pokoknya ikhtiar, Allah pasti memberi kesembuhan,” ujarnya tersenyum. Padahal, saat ia ngomong hal itu, aku nyaris menangis.
Melihat ketabahan, keikhlasan, keteguhan hati dan kesabarannya, aku pun malu. Bahkan kala aku ingin membesarkan hatinya, aku juga tak sanggup. Sungguh, aku malu dengan kesabaran hatinya. ”Yul, aku ga bisa ngomong banyak. Karena aku yakin, kamu lebih paham atas semua cobaan ini,” ujarku. ”Ngomong saja San. Alhamdulillah, banyak sekali hikmahnya. Aku bersyukur, Allah memberi sakit ini setelah aku lulus kuliah. Aku sangat bersyukur,” ujarnya. Rabb...dalam kondisi seperti ini, syukurnya masih menggema. Akupun lantas melihat diriku yang sering mengeluh dan kerap lupa atas nikmat-Nya. ”Ampuni aku Tuhan....,” batinku.
Dalam perjalanan pulang dari rumahnya yang berada di gang sempit di kawasan padat penduduk belakang Kostrad, Gandaria Jakarta Selatan, aku masih terngiang ucapan Yulia. Namun, tangisku langsung pecah kala aku berada di dalam mobil. ”Tuhan, dibalik tubuhnya yang kian menyusut dan lumpuh, ia punya jiwa besar dan tegar. Lindungi Yulia, berikan kesembuhan untuknya,” ujarku di sela tangisku.
Pagi ini, aku menerima sms dari Yulia. Sungguh, tergambar sebuah kesabaran dan keihlasan hati anak manusia dalam menghadapi cobaan dari Sang Pemilik Kehidupan. ”Sungguh San, ada banyak hikmah di balik semua ini. Aku jadi tahu, manusia itu benar-benar makhluk lemah. Kekuasaan, kehidupan, dan kesembuhan hanya milikNya, Allah azza wa jalla.”
Yulia temanku yang manis, yang lincah, ceria, saat ini hanya bisa terbaring. Bahkan, untuk duduk pun ia tak sanggup. Nyaris sepanjang hari ia hanya bisa mendengarkan ceramah keagamaan dari radio mungilnya yang ia letakkan di dekat kupingnya. Cita-citanya untuk membahagiakan orang tuanya dan memperbaiki ekonomi keluarga, direnggut penyakitnya. Hanya enam bulan ia bekerja. Setelah itu, ia menjalani hari-harinya dengan pengobatan dari dokter satu ke dokter lain, dari herbalis satu ke tenaga alternatif lain. ”Jika berobat, aku dibopong San,” tuturnya. Padahal, ia sama seperti aku dan lainnya. Punya hak untuk hidup lebih baik. Tapi, semua itu, saat ini seakan sirna dari hidupnya.
”Rabbi, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berilah kesembuhan dan yang terbaik untuk Yulia,” doaku dalam sujudku. Teman-teman, mohon keikhlasan doa untuk kesembuhan Yulia. Terima kasih atas support-nya.
Kamis, 13 Agustus 2009
Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Tong Bolong Melompong Isinya
Sekilas, tong warna hijau toska yang berada di peron salah satu statsiun itu baik-baik saja, ya seperti lazimnya tong sampah. "Aku baik-baik saja....," mungkin kira-kira begitu jika ia bisa bicara, seperti lagunya Ratu lah.Bahkan, boleh dibilang jika dilihat sekilas, kondisinya masih oke. Tanpa ragu, aku pun mendekatinya. Untuk apa? Ya untuk buang sampah lah masak buang muka....:p
Namun, kala bungkus penganan nyaris lepas dari jemari tanganku yang sangat kasar kayak amplas (maklum kuli bangunan nek...)tiba-tiba aku mengurungkannya. Ow ow....tong sampah itu separo dasarnya bolong! "Hhhhh...ini jelas-jelas jebakan!" kataku kesal dalam hati. Finally, kukantongi aja tuch bungkus makanan kecil.
Ternyata, tong sampah itu seperguruan dengan miss kunti, sama-sama bolong. Dah gitu, dia sudah tidak layak lagi menyandang nama besar tong sampah, tapi harus diganti menjadi tong bolong. Kalo dia ngotot tetap ingin dipanggil tong sampah, sudah tidak pantes lagi. Pasalnya, ga bisa nampung sampah. Masih mendingan tong kosong meski nyaring bunyinya masih bisa diisi macem-macem mulai dari tanaman hingga sisa-sisa bangunan. Tong kosong pun bisa menjadi tong sampah. Kalo tong bolong? Ya mlompong isinya. Alias ga ada apa-apanya.
Hal-hal kecil kayak begini membuktikan betapa besar 'perhatian'pemerintah, instansi terkait dan masyarakat Indonesia akan kebersihan lingkungan. Sehingga, tong sampah pun dibiarkan bertengger anggun meski sudah bolong. Yang penting kan kelihatan care pada lingkungan. Padahal.....
Rabu, 29 Juli 2009
"Dari Bemo Menyekolahkan dan Mengawinkan Anak"
Wajah laki-laki tua itu tampak kecewa, tiap menerima pembayaran ongkos penumpang. Di bemo tuanya jelas terpampang tulisan besar Rp 2500. Bisa jadi, karena penumpang membayar di bawah harga. Ketika penumpang satu per satu turun, dan tinggallah aku dan bapak tua, penumpang di samping sopir, aku mencoba mencairkan suasana. "Gimana Pak, ramai pagi ini?" tanyaku tersenyum.
Bapak tua itupun menoleh ke arahku yang berada di jok belakang. "Ya...seperti biasanya neng, sepi." Ia menambahkan, "Sejak kredit sepeda motor mudah, orang memilih beli motor daipada naik bemo." Menurutnya, penghasilannya turun drastis, sejak masyarakat lebih memilih nyicil motor. "Pemasukan turun banyak pokoknya. Nyari duit susah," keluhnya.
Tapi, Pak Asep Suryantana, demikian nama panjangnya, tetap bersyukur. "Alhamdulillah, anak-anak sudah lulus sekolah aliyah semua (MAN, setingkat SMU," syukurnya. "Tidak kebayang kalau anak Bapak masih sekolah. Sepertinya Bapak tidak bisa menyekolahkan mereka dengan penghasilan sekarang," imbuhnya.
Pak Asep, lelaki tua berusia 60 tahun itu telah 'mengabdi' menjadi sopir bemo sejak 25 tahun silam. "Dulu Bapak bisa dapat uang Rp 300 ribu. Sekarang boro-boro. Kadang Bapak tidak bisa mengejar jumlah setoran sehari Rp 40 ribu ke pemilik bemo ini," ujarnya. "Kalau tidak dapat Rp 40 ribu gimana Pak," tanyaku prihatin. "Ya ngutang neng," jawabnya.
Akibat sepinya penumpang, kakek tujuh cucu ini jarang pulang menemui istri dan anak cucunya yang berada di Bandung. "Kalau pulang ke rumah, harus bawa uang paling sedikit Rp 300 ribu. Itupun habis buat ongkos," tutur ayah dari empat orang anak itu.
Ketika ditanya tentang rencana penghapusan armada demo di Jakarta, Pak Asep berujar lirih," Kalau mau dihapus pemerintah, rakyat kecil bisa apa, ya ngikut aja neng. Bapak mau dagang di kampung, kalau tidak bisa narik bemo lagi. Bapak bersyukur, dari bemo ini Bapak bisa menyekolahkan anak dan mengawinkan mereka," pungkasnya. Tak terasa, perbincangan kami pun harus berakhir. Karena aku sudah sampai lokasi yang kutuju. Kuselipkan uang sepuluh ribuan ke pahlawan keluarga itu yang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. "Terima kasih banyak neng," ujar Pak Asep di tengah raungan mesin bemonya....
Sabtu, 25 Juli 2009
Mengasong Hidup di Sudirman
Mataku nanar menyapu trotoar Jalan Sudirman. "Nenek kok tidak ada ya," ujarku cemas. Kekhawatiran sempat memenuhi pikiranku. "Jangan-jangan......." Tiba-tiba ada suara seperti memanggilku. "Nak Susan, lama ga kelihatan," ujar mbah Sulami, nenek pedagang asongan, sambil memarkan deretan giginya yang tinggal satu dua. "Alhamdulillah," kata batinku lega. Oalah...ternyata lokasi jualan mbah agak jauhan dari biasanya. "Mbah kira sudah pindah kantor Nak," imbuhnya kala aku menyalaminya.
Jumat pagi itu, seperti biasa mbah Sulami ngasong di trotoar Sudirman dekat Pasar Bendungan Hilir. Sebuah payung usang melindunginya dari sengatan matahari yang mulai terik. Dagangannya berupa tissue, air mineral, minuman ringan, dan rokok ditaruh dalam dua kardus. Kala sedang ngobrol denganku, ada seorang wanita kantoran membeli tissue.
"Mbah, gimana kabarnya," ujarku. "Alhamdulillah baik Nak," kata Mbah Sulami yang hidup sebatang kara di ibukota. Ia pun bercerita tentang dagangannya yang dicuri orang. "Kemarin ada yang ngambil sebungkus rokok Nak." "Mbah memang ke mana?" "Mbah lagi ke pasar sebentar,eh sebungkus rokok langsung hilang." "Sabar ya mbah," ujarku sok bijak dan menasehati...:p
Beberapa minggu ini, Mbah Sulami harus 'maen petak umpet' sama petugas Satpol PP. "Minggu kemarin Mbah sudah mau ditangkap Nak," ujarnya. "Terus, mbah gimana waktu mau ditangkap?" tanyaku. "Mbah nangis dan bilang ma petugas, kalau mau diangkut, angkut saja. Mbah ga selamanya di sini. Mbah bukan pengangguran. Mbah di sini nyari makan, Mbah ga mau nyusahin orang lain dan pemerintah." "Akhirnya mbah?" "Ya ga jadi Nak," ujarnya. Seminggu sebelumnya, kata Mbah Sulami, juga ada operasi. "Mbah sembunyiin dagangan mbah," tuturnya.
Aku ga bisa mbayangin, Mbah Sulami, nenek renta berusia 95 tahun harus bolak balik mindahin barang-barang dagangannya saat digelar operasi. Hatiku pun trenyuh. Tapi, aku mendapat pelajaran sangat berharga, sebuah perjuangan hidup. Di usianya yang hampir seabad, Mbah Sulami tetap tegar mengasong di jalanan untuk melanjutkan kehidupan. Tidak ada keluhan, mengapa ia harus menjalani hidup seperti sekarang. Pagi sampai sore berdagang asongan, malam tidur sendirian di los pasar Benhil Sudirman.
"Mbah, mbah ga mau pulang kampung, di sana lebih tenang dan aman buat mbah" ujarku lembut. "Mbah tidak punya siapa-siapa di kampung Nak," ujarnya tersenyum. Suami mbahsudah berpulang ke Sang Khalik, imbuhnya. Ia juga tidak punya anak. "Ada saudara. Tapi mbah ga enak kalo numpang, ga mau ngerepotin saudara," terangnya. Percakapan kami berlangsung sekitar 15 menit, karena aku harus kembali melanjutkan perjalananku. "Mbah, saya pamit dulu ya. Mbah baik-baik ya. Jangan lupa berdzikir dan sholat ya Mbah," ujarku sambil menyalaminya dan memberikan selembar daun.....eh uang. "Makasih banyak Nak Susan. Hati-hati di jalan ya," ujarnya tulus. Kembali Mbah seorang diri di antara hingar bingar kehidupan Metropolitan dan asap knalpot kendaraan. Mudah-mudahan Sang Pemilik Kehidupan selalu melindunginya dan memudahkannya dalam kesulitan hidup yang menderanya. Semoga.
Minggu, 21 Juni 2009
Ikhlaskan, Sekalipun Cuma Ucapan Thank You
Dadaku mendadak sesak, penuh, dan bergemuruh. Sesaat setelah Vera (bukan nama sebenarnya) keluar dari pintu pagar rumahku. "Koq dia ga tahu diri banget ya....makasih aja ngga," batinku berkata. Tiba-tiba Vera menoleh ke arahku. "Ah mungkin dia mau ngucapin makasih kali," harapku. "Duluan ya mba, Assalamu'alaikum..." "Waalaikumsalam," balasku.Aku pun masuk rumah dengan nada kecewa.
"Kenapa nduk," tanya ibuku. "Kecewa Bu, masak dikasih duit Rp 800 ribu, ngucapin makasih aja nggak," ujarku lirih. "Sudah ikhlaskan saja nduk," nasehat ibuku. Akupun berusaha mengikhlaskan bantuanku. Cuma, sudut hatiku tetap tidak terima. "Untuk mendapatkan uang Rp 800 ribu kan ga gampang," protes batinku.
Aku berusaha melupakan kejadian itu.
Beberapa bulan kemudian, saat aku berada di angkutan umum. "Mba, Intan lagi sakit, anak-anak lagi kurang enak badan," demikian bunyi sms dari Ratih (bukan nama sebenarnya). Membaca sms itu, aku baru tersadar kalo saat itu aku belum ngirim uang ke dia. Ratih, ibu dua orang anak balita di Surabaya. Perempuan berusia 27 tahun itu kumpul bareng orang tuanya di sebuah rumah sempit di gang kecil di Kota Buaya, bareng dengan saudaranya yang lain yang telah menikah juga. Jadilah rumah mungil itu dihuni oleh beberapa keluarga.
Ratih menikah dengan tetanggaku. Malangnya, kala ia hamil 3 bulan, dan anak pertamanya berusia setahun, suaminya yang menjadi buruh pabrik itu meninggal dunia. Sejak suaminya meninggal, aku berusaha membantunya tiap bulan. Tiap menerima bantuan, tak lupa Ratih menelponku mengucapkan terima kasih dan mengabarkan perkembangan buah hatinya, Indy dan adiknya yang kini telah lahir, Intan namanya.
Karena kesibukanku, aku lupa lagi mengirim uang. Baru empat hari setelahnya, aku ingat dan berniat mentransfer uang. Ternyata, aku ga nyimpan no rek-Ratih di Hpku. Akhirnya, aku nge-sms menanyakan norek-nya. Ratih pun membalas smsku tanpa ada kata terima kasih di situ. Aku pun maklum. Dan beberapa hari setelahnya juga tidak ada sms ataupun telepon ucapan terima kasih.
Demikian juga kala aku membantu kaum dhuafa lain. Harapan balasan itu kubuang jauh-jauh. Karena itu, aku sangat surprise, kala memberikan sedekah ke Mbah Sulami, nenek sebatang kara yang jualan minuman di trotoar Sudirman dekat Pasar Benhil. Uang yang kuberikan tak seberapa. Tapi, subhanallah…ucapan terima kasihnya sangat tulus. Ia pun dengan senang hati meminta aku mengambil minuman dagangannya. Kadang aku mau, kadang juga ga. Karena memang ga haus…..:)
Setelah berusaha ikhlas, alhamdulillah, hatiku kian lapang dan tidak berharap ucapan terima kasih. Lambat laun, ucapan thank you itu kulupakan. “Allah Maha Tahu,” demikian bisik hatiku. Bahkan, aku berusaha untuk tidak bertemu langsung dengan penerima bantuan. Hatiku terasa lapang setelahnya....
Dari rentetan kejadian itu, aku belajar untuk menghargai pemberian orang. Sekecil apapun pemberian itu. Aku terbiasa mengucapkan terima kasih saat menerima langung dan setelahnya berusaha mengirimkan sms berisi ucapan terima kasih. Aku berusaha menghargai niat baik orang lain yang telah memberiku. Pemberian adalah sebuah bentuk perhatian mereka akan keberadaanku.
“Dua kata paling penting di dunia: TERIMA KASIH dan MAAF. Satu kata yang paling tidak penting: SEANDAINYA…..
Sabtu, 20 Juni 2009
Semangat Seorang Penjaja Roti
"Mbak,kok ga keliling," tanyaku pada pedagang roti keliling yang biasa ngider di stasiun Tebet. "Tuch... di seberang ada tramtib," ujarnya melihat tramtib yang berada di peron jurusan Bogor. Alhasil, Rabu pagi ini (22/4), perempuan penjaja roti bernama Tutik itu hanya duduk manis di bangku penumpang KA sambil sesekali menawarkan roti ke penumpang yang melintas di depannya.
"Sekarang jam berapa sih mbak?" tanya perempuan asal Purwodadi dengan logat Jawa yang masih kental. "Jam 08.00 WIB mbak, kenapa?" "Biasanya mereka (tramtib) ke sini jam 9 pagi," jelas Tutik. "Kalau mereka ada di sini, saya ya hanya diam gini. Nurut saja lah, ntar kalau keliling malah ditangkap," keluh Tutik. "Pernah ditangkap?" "Ga pernah. Saya selalu mematuhi perintah mereka. Kalau disuruh keluar stasiun ya keluar. Kadang saya juga menawarkan roti ke para petugas itu. Lagian saya ini niatnya nyari rezeki halal. Mereka menjalankan tugasnya, saya juga kerja," jelasnya kalem.
"Dari dulu jualan roti?" "Nggak mbak, tadinya saya babby sitter. Setelah nikah milih dagang roti. Biar ga tergantung pada orang, waktunya bebas, sekalian bisa ngawasin anak," ujarnya. Tiap hari, Tutik berkeliling dengan sepedanya menawarkan roti. "Saya jualan di sekitar rumah saya,tuch di sebelah situ," Tutik menunjuk lokasi rumahnya yang berada di sebelah selatan stasiun Tebet.
Jam 07.00 pagi Tutik mulai ngasong di stasiun Tebet. "Sepeda saya titipin dekat stasiun," ujarnya. Biasanya, jam operasi jualan roti di stasiun berlangsung hingga pukul 09.00 WIB. "Kadang juga cuma sampai jam 08.00 WIB seperti sekarang karena sudah ada tramtib," jelasnya.
"Jualannya hanya sampai jam 09.00?" "Ya nggak lah mbak, pagi sampai jam 11.00 WIB, tapi ga di stasiun lagi, keliling naik sepeda di pemukiman penduduk," ujarnya. "Terus?" "Nanti jam 17.00 WIB saya jualan lagi sampai jam 20.00 WIB kadang di stasiun kadang juga ngider," jelasnya.
Dalam sehari, Tutik mampu menjual 20-an bungkus roti tawar dan 30-an roti manis. "Tapi kadang bisa lebih dari itu,"ujarnya. Dengan tren penjualan seperti itu, sehari Tutik bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu untuk dibawa ke rumah. "Untuk mbantu suami dan membiayai sekolah anak," ujar Tutik tersenyum.
Nggak berselang lama, petugas tramtib di peron seberang memberi kode agar Tutik menyingkir dari stasiun. "Mbak, saya pergi dulu ya. Makasih," ujarnya buru-buru mengambil nampan rotinya sambil memberikan dua roti mamis yang aku beli. Melihat semangatnya, aku jadi teringat spirit ibuku, mbakku dan jutaan perempuan lain di negeri ini yang berjuang untuk keluarga dan anak-anaknya menjadi generasi masa depan.
Rabu, 08 April 2009
Bocah Penjemput Jariyah
Dua anak itu berjalan mendekati penumpang kereta di stasiun KA Universitas Pancasila, Lenteng Agung, Jaksel. Mereka membawa kaleng kerupuk yang telah beralih fungsi dengan label "Amal Jariyah". Anak berusia sekitar 9 tahunan ini dengan ceria mendekati penumpang KA yang tengah duduk di bangku bakso stasiun. Namun, kala mereka mendekatiku, kedua anak ini agak ragu karena melihat kameraku...
Satu anak kabur, sementara satunya lagi mendekat malu-malu. Jepret...jepret..kuambil foto anak itu dua kali. Keinginan untuk berbincang pun hilang. Buru-buru aku mengeluarkan uang ribuan dan kumasukkan ke dalam kaleng sedekah itu. Anak itupun setengah lari segera berlalu, takut wajahnya kena blitz kameraku lagi.
Dua bocah ini adalah satu dari sekian banyak anak yang harus mencari uang untuk membantu membiayai kehidupannya. Tiap pagi, rombongan anak usia 7 hingga 11 tahun membawa kaleng kotak amal jariyah melintas di jalanan Lenteng Agung. Mereka menjadi agen amal dari salah satu musholla di Lenteng Agung.
Selepas menyelesaikan tugasnya, siang hari, mereka masuk sekolah. Ada juga yang masuk sekolah pagi, dan sore hari menjadi agen amal. Yang menjadi pertanyaan, mengapa anak-anak kecil yang dipilih untuk bekerja menjemput jariyah. Yang menjadi pertanyaan juga, mengapa praktek 'jemput bola' ini kian marak sekarang. Apakah kesadaran beramal kita sedemikian buruknya? Sampai diperlukan agen amal di jalanan. Atau adakah keuntungan lain di balik praktek jemput jariyah? Entahlah... wallohu a'lam
Selasa, 07 April 2009
Berbagi dan Kepuasan Diri
"Makasih ya mbak Susan," nada terima kasih mbak Yati terdengar tulus tiap menerima bantuan dariku. Ia ibu dari dua orang anak yatim. Sepenggal do'a pun meluncur dari bibirnya atas bantuan yang kuberikan. Bahkan, sering aku risih, karena ia berusaha mencium tanganku, mirip jamaah di kampungku yang berebutan mencium tangan Bu Nyai. Melihat sorot kebahagiaan di matanya, dan tingkah polah dua anaknya, akupun larut dalam samudera bahagia. Aku merasa bak seorang pahlawan! Tanpa kusadari, ada kepuasan diri yang memenuhi kalbuku....
Berbagi dan kepuasan diri hubungannya sangat erat. Sedekat apakah hubungan mereka? Ketika kita berbagi, ada rasa senang yang terpancar dari wajah kita. Secara perlahan, rasa syukur pun menyelinap dalam relung hati yang membawa ketenangan dalam jiwa. Di sinilah kepuasan hakiki, pemberian dari Ilahi.
Kegiatan berbagi ini akan kian terasah kala kita tiap hari bersentuhan dengan napas kehidupan kaum marjinal. Empati kita akan tumbuh subur melihat nestapa kehidupan mereka. Tangan kita akan terbuka memberi bantuan bagi kaum dhuafa.
Namun....tangan-tangan kapitalis saat ini sekan-akan merangkul kita menjauhi kegiatan berbagi dan abai dengan penderitaan orang lain. Setiap hari iklan produk mereka berseliweran di depan mata. Kalaupun tidak tergoda hari ini, oneday boleh jadi kita terbujuk.
Hedonisme telah menjadi salah satu madzab baru dalam kehidupan kita. Konsep kesenangan pribadi dan memuaskan diri sendiri menjadi hal lumrah. "Boro-boro mikirin orang lain, mbantu orang susah, buat memenuhi kebutuhan sendiri saja sudah susah," ujar seorang kawan.
Sebenarnya bukan karena tidak bisa membantu orang lain. Tapi, keengganan itulah yang menjadi penghadang. Orang lebih happy jika belanja barang-barang branded berharga ratusan hingga jutaan rupiah. Tapi, untuk menyumbang kegiatan sosial dengan nominal ribuan hingga puluhan ribu, harus mikir seribu kali.
Saya secara pribadi juga kadang berperilaku seperti mereka. Rayuan manis syetan untuk menghamburkan uang, membeli suatu barang yang sebenarnya tidak diperlukan, menari-nari dalam pikiran. Biasanya saya akan membela diri dalam hati, "Ah...tidak apa-apa kok. Ini kan sebagai hadiah pada diri sendiri.....menyenangkan diri sendiri...sebagai wujud cinta pada diri sendiri (kadang dikuatkan dengan pembenaran siapa lagi yang lebih mencintai diri kita selain kita sendiri?)....dan bla bla bla..."
Bersyukurnya, jiwa malaikat kerap muncul kala saya tergoda membeli barang dengan harga lumayan. Lumayan dalam definisi saya kisaran ratusan ribu kok, ga sampai jutaan rupiah. Ketika saya sudah di fitting room, ngepas baju sambil membayangkan alangkah cantiknya aku dengan baju ini hehe...tiba-tiba suara Tuhan itupun muncul...."Ingat...anak-anak yatim itu. Masak harga bajumu sama dengan sumbangan bulanan untuk dua anak yatim...." ujar suara hatiku dengan jengkel. Kalau sudah begini, saya malu sendiri. So, kalau lagi asyik window shopping di gerai fashion mall ternama, aku berusaha menyimpan suara hatiku. ..
Alhamdulillah, suara Tuhan lebih dominan. Tiap aku sudah memegang sebuah baju yang sebenarnya tidak perlu, wajah-wajah anak itu sering terlintas. Yah....demikianlah... aku ga jadi beli akhirnya......Duh, padahal aku pingin banget...
Wajah mereka juga kerap terbayang kala aku akan makan di sebuah restoran dengan harga lumayan. Spontan dech hati kecilku langsung berkata," Bijak ga sih, aku membelanjakan uang yang untuk sekali makan di restoran, nominalnya tidak jauh beda dengan bantuan bulanan ang kuberikan buat empat anak yatim dalam satu keluarga!" Itupun membuat aku seperti super hero, padahal bantuan yang kuberikan pas-pasan. Astaghfirullah...
Tapi, kadang kala aku abaikan suara-suara kebaikan itu. Toh, aku juga mendapat kepuasan diri dari makanan-makanan lezat nan menggoda itu... Maafkan tante susan sayang....
Kadangkala aku berpikir, apa aku terlalu pelit. Sehingga jumlah uang bulanan yang kuberikan kepada mereka sama dengan harga satu baju di gerai ritel modern. Tapi, aku sering memberikan pembenaran sendiri. "Kebutuhan mereka dengan aku kan beda!" Wah...wah...ga bakal ada titik temunya.
Tapi, kuakui kepuasan diri sejati hanya kudapatkan ketika aku berbagi dengan mereka. "Aku merasa lebih berarti, lebih dubutuhkan, dan hidupku menjadi lebih hidup." Kalau kepuasan sesaat, kudapatkan when I'm go shopping til die i.e belanja baju, aksesoris, dan makan di restoran yang wuenak. After that ....I'm regret. Swear!
Berbagi dan kepuasan diri hubungannya sangat erat. Sedekat apakah hubungan mereka? Ketika kita berbagi, ada rasa senang yang terpancar dari wajah kita. Secara perlahan, rasa syukur pun menyelinap dalam relung hati yang membawa ketenangan dalam jiwa. Di sinilah kepuasan hakiki, pemberian dari Ilahi.
Kegiatan berbagi ini akan kian terasah kala kita tiap hari bersentuhan dengan napas kehidupan kaum marjinal. Empati kita akan tumbuh subur melihat nestapa kehidupan mereka. Tangan kita akan terbuka memberi bantuan bagi kaum dhuafa.
Namun....tangan-tangan kapitalis saat ini sekan-akan merangkul kita menjauhi kegiatan berbagi dan abai dengan penderitaan orang lain. Setiap hari iklan produk mereka berseliweran di depan mata. Kalaupun tidak tergoda hari ini, oneday boleh jadi kita terbujuk.
Hedonisme telah menjadi salah satu madzab baru dalam kehidupan kita. Konsep kesenangan pribadi dan memuaskan diri sendiri menjadi hal lumrah. "Boro-boro mikirin orang lain, mbantu orang susah, buat memenuhi kebutuhan sendiri saja sudah susah," ujar seorang kawan.
Sebenarnya bukan karena tidak bisa membantu orang lain. Tapi, keengganan itulah yang menjadi penghadang. Orang lebih happy jika belanja barang-barang branded berharga ratusan hingga jutaan rupiah. Tapi, untuk menyumbang kegiatan sosial dengan nominal ribuan hingga puluhan ribu, harus mikir seribu kali.
Saya secara pribadi juga kadang berperilaku seperti mereka. Rayuan manis syetan untuk menghamburkan uang, membeli suatu barang yang sebenarnya tidak diperlukan, menari-nari dalam pikiran. Biasanya saya akan membela diri dalam hati, "Ah...tidak apa-apa kok. Ini kan sebagai hadiah pada diri sendiri.....menyenangkan diri sendiri...sebagai wujud cinta pada diri sendiri (kadang dikuatkan dengan pembenaran siapa lagi yang lebih mencintai diri kita selain kita sendiri?)....dan bla bla bla..."
Bersyukurnya, jiwa malaikat kerap muncul kala saya tergoda membeli barang dengan harga lumayan. Lumayan dalam definisi saya kisaran ratusan ribu kok, ga sampai jutaan rupiah. Ketika saya sudah di fitting room, ngepas baju sambil membayangkan alangkah cantiknya aku dengan baju ini hehe...tiba-tiba suara Tuhan itupun muncul...."Ingat...anak-anak yatim itu. Masak harga bajumu sama dengan sumbangan bulanan untuk dua anak yatim...." ujar suara hatiku dengan jengkel. Kalau sudah begini, saya malu sendiri. So, kalau lagi asyik window shopping di gerai fashion mall ternama, aku berusaha menyimpan suara hatiku. ..
Alhamdulillah, suara Tuhan lebih dominan. Tiap aku sudah memegang sebuah baju yang sebenarnya tidak perlu, wajah-wajah anak itu sering terlintas. Yah....demikianlah... aku ga jadi beli akhirnya......Duh, padahal aku pingin banget...
Wajah mereka juga kerap terbayang kala aku akan makan di sebuah restoran dengan harga lumayan. Spontan dech hati kecilku langsung berkata," Bijak ga sih, aku membelanjakan uang yang untuk sekali makan di restoran, nominalnya tidak jauh beda dengan bantuan bulanan ang kuberikan buat empat anak yatim dalam satu keluarga!" Itupun membuat aku seperti super hero, padahal bantuan yang kuberikan pas-pasan. Astaghfirullah...
Tapi, kadang kala aku abaikan suara-suara kebaikan itu. Toh, aku juga mendapat kepuasan diri dari makanan-makanan lezat nan menggoda itu... Maafkan tante susan sayang....
Kadangkala aku berpikir, apa aku terlalu pelit. Sehingga jumlah uang bulanan yang kuberikan kepada mereka sama dengan harga satu baju di gerai ritel modern. Tapi, aku sering memberikan pembenaran sendiri. "Kebutuhan mereka dengan aku kan beda!" Wah...wah...ga bakal ada titik temunya.
Tapi, kuakui kepuasan diri sejati hanya kudapatkan ketika aku berbagi dengan mereka. "Aku merasa lebih berarti, lebih dubutuhkan, dan hidupku menjadi lebih hidup." Kalau kepuasan sesaat, kudapatkan when I'm go shopping til die i.e belanja baju, aksesoris, dan makan di restoran yang wuenak. After that ....I'm regret. Swear!
Anak Stasiun
Bocah berusia sekitar 2,5 tahun itu terlelap di atas papan dagangan pada suatu sore di Stasiun Manggarai. Lalu lalang orang dan bising suara Kereta Api tidak mampu membangunkannya. Balita ini adalah anak pedagang kaki lima yang mangkal di stasiun. Seperti stasiun lain di Jakarta, stasiun Manggarai juga diramaikan oleh pedagang kaki lima yang menjajakan aneka penganan ringan gorengan misalnya, minuman, hingga makanan berat seperti tauge goreng, mie instan rebus, siomay, bakso, mie ayam hingga nasi plus lauk pauknya.
Selain diramaikan oleh pedagang, sebagai stasiun, tentunya dipenuhi oleh penumpang KRL. Selain penumpang yang lumayan melimpah, kita juga akan mendapati asap rokok yang jumlahnya tidak kalah. So, bagi penumpang khususnya kaum perempuan yang tidak tahan dengan asap rokok, segeralah menutup hidung anda dengan masker atau tisue. Nah, bagi kaum wanita berjilbab, Anda boleh bergaya seperti Aisya dalam Ayat-Ayat Cinta....Duh...cantiknya...
Di stasiun ini pula, kita kerap menjumpai anak-anak jalanan yang dari berbagai daerah. Suatu sore ketika saya sedang di stasiun Cikini, datang seorang bocah berumur sekitar 9 tahun. "Namanya siapa sayang," kataku setelah memberikan uang kepadanya. "Hilmi," jawabnya singkat. "Kenapa kamu di sini," tanyaku. "Kabur dari rumah, karena Bapak galak," ujarnya. "Kamu sampai di Jakarta sendiri?" "Ya, naik kereta..." ujar Hilmi datar. Ternyata, Hilmi tidak sendiri. Tak berapa lama, muncul temannya Hilmi yang ternyata berasal dari Lampung. Sayang, aku lupa namanya. Penyebab temannya Hilmi menjadi anak jalanan tak jauh beda, tidak betah di rumah karena orang tua galak.
Sedih dan miris hatiku menatap mereka. Sambil bercanda, aku mencoba menyisipkan nilai-nilai kebaikan kepada mereka. Entah nasihat itu sampai ke mereka atau tidak. Yang jelas, sore itu aku dapat satu pelajaran baru. Rawatlah dan didiklah anak-anak dengan kelembutan.....
Langganan:
Postingan (Atom)
